Selamat Datang Rakan dan Semoga Bermanfaat.

Showing posts with label Tugas Sekolah. Show all posts
Showing posts with label Tugas Sekolah. Show all posts

Tuesday, August 9, 2016

Orang Muslim yang Pertama kali Terbang

Salam Sejahtera rakan...

         Selama ini kita mengira bahwa Wright Bersaudara yang terbang untuk yang pertama kalinya. Kita mesti tahu rakan bahwa 1000 tahun sebelum wright bersaudara sudah ada ilmuwan atau orang muslim yang terbang untuk pertama kali.

         Nah, Gudang Isi kali akan membagikan sedikit info tentang Manusia yang terbang pertama di dunia :

Abbas bin Firnas : Manusia yang Pertama Terbang

www.linkedin.com
       Terlahir dengan nama Abbas Qasim bin Firnas di Izn-Rand Onda, Andalusia pada tahun 810 M. Meninggal pada tahun 887 M.

        Di bidang ilmiah beliau fokus pada ilmu matematika dan ilmu alam atau fisika, Sebagai bukti beliau berhasil membuat atap rumahnya yang menyerupai bola langit yang diantaranya mampu memperlihatkan gambaran tentang bintang, awan, kilat sebagaimana langit pada aslinya.

        Sejarah mencatat Abbas bin Firnas sebagai manusia pertama yang pernah melakukan uji coba penerbangan terkendali, dengan menggunakan semacam alat kendali terbang di 2 set sayap, yang bisa mengatur dan mengontrol ketinggian terbangnya, alat kendali itu juga berfungsi sebagai pengubah arah terbangnya yang terbukti saat ia dapat kembali ke tempat peluncurannya. meski begitu dia mengalami luka-luka saat mendarat.


www.kabarmakkah.com

         Setelah sekitar 12 tahun setelah beliau melakukan uji coba yang keduanya beliau meninggal dunia. cedera yang dialaminya membuat kesehatannya semakin memburuk. Philip K Hitti mencetus beliau sebagai salah satu tokoh besar yang melakukan uji coba penerbangan. Bangsa Irak membangun patung beliau di sekitar lapangan terbang Internasionalnya dan juga mengabdikan nama beliau sebagai nama Bandar Udara di Baghdad


Sumber Referensi :
kangudo.wordpress.com
satujam.com
wikipedia.org


Share:

Ilmuwan Muslim Ahli Mesin dan Ciptaannya

Salam Sejahtera rakan...

     Kita selama ini pasti berpacu bahwa penemuan teknologi yang digunakan saat ini diciptakan oleh orang barat, namun siapa sangka bahwa orang muslim menciptakan karya yang menakjubkan.

     Nah kali ini Gudang Isi akan menginfokan diciptakan oleh ilmuwan Al-Jazari.

     berikut penemuannya :

 Al-Jazari : Ahli Mesin/Robot

romansa.sman1-klt.sch.id
      Beliau lahir (1136 M) di al-jazera, mesopotamia (wilayah tenggara turki antar sungai tigris dan sungai eufrat). Nama lengkap beliau Abu Al-'iz ibn Ismail Ar-Razaz Al-Jazari. Ayahnya mengabdi di kediaman dari dinasty cabang mardin yang memerintah wilayah timur Anatolia sebagai wilayah pengikut dari dinasty Zangid dan selanjutnya dinasty Ayyubiyah sebagai kepala insinyur di Istana Artuklu.
     Al-jazari lebih canderung sebagai praktisi insinyur karena beliau bagian dari tradisi pengrajin. Buku beliau yang sangat populer yaitu "fi ma'rifat al-hiyal al-handasiyya (pengetahuan ilmu mekanik) tahun 1206 M yang menjelaskan peralatan-peralatan yang ia bangun sendiri sebagaimana terlihat sejumlah salinan manuskrip. 
     Aspek dari mesin-mesin yang diciptakannya diperkenalkan pada tahun 1206 M yang menerapkannya dalam automaton ciptaannya, water-raising machines dan water clocks (such as the candle clocks).
(Water Raising device)
en.wikipedia.org
Diagram from booken.wikipedia.org
   
    














en.wikipedia.org
     Penemuannya yang paling fenomenal adalah elephant clocks (jam gajah). yang terdiri dari jam hidrolik yang berbentuk gajah diatas gajah tersebut ada tenda mini yang menjadi tempat komponen jam dan patung-patung yang bergerak yang berbunyi setiap setangah jam sekali. Jam gajah ini mengusung siklus mekanik secara otomatis menggerakkan seluruh bagian jam







Sumber Referensi ;
wikipedia.org
blogpenemu.blogspot.co.id
Share:

Friday, May 20, 2016

Paper Tarekat Syattariyah


TAREKAT SYATTARIYAH


            Tarekat Syattariyah adalah aliran tarekat yang pertama kali muncul di India pada abad ke-15. Tarekat ini dinisbahkan kepada tokoh yang mempopulerkan dan berjasa mengembangkannya, Abdullah asy-Syattar.
            Awalnya tarekat ini lebih dikenal di Iran dan Transoksania (Asia Tengah) dengan nama Isyqiyah. Sedangkan di wilayah Turki Usmani, tarekat ini disebut Bistamiyah.
            Kedua nama ini diturunkan dari nama Abu Yazid al-Isyqi, yang dianggap sebagai tokoh utamanya. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya Tarekat Syattariyah tidak menganggap dirinya sebagai cabang dari persatuan sufi mana pun. Tarekat ini dianggap sebagai suatu tarekat tersendiri yang memiliki karakteristik-karakteristik tersendiri dalam keyakinan dan praktik.
            Sedikit yang dapat diketahui mengenai Abdullah asy-Syattar. Ia adalah keturunan Syihabuddin Suhrawardi. Kemungkinan besar ia dilahirkan di salah satu tempat di sekitar Bukhara. Di sini pula ia ditasbihkan secara resmi menjadi anggota Tarekat Isyqiyah oleh gurunya, Muhammad Arif.

            Nisbah asy-Syattar yang berasal dari kata syatara, artinya membelah dua, dan nampaknya yang dibelah dalam hal ini adalah kalimah tauhid yang dihayati di dalam dzikir nafi itsbat, la ilaha (nafi) dan illallah (itsbah), juga nampaknya merupakan pengukuhan dari gurunya atas derajat spiritual yang dicapainya yang kemudian membuatnya berhak mendapat pelimpahan hak dan wewenang sebagai Washitah (Mursyid). Istilah Syattar sendiri, menurut Najmuddin Kubra, adalah tingkat pencapaian spiritual tertinggi setelah Akhyar dan Abrar. Ketiga istilah ini, dalam hierarki yang sama, kemudian juga dipakai di dalam Tarekat Syattariyah ini. Syattar dalam tarekat ini adalah para sufi yang telah mampu meniadakan zat, sifat, dan af'al diri (wujud jiwa raga).

            Namun karena popularitas Tarekat Isyqiyah ini tidak berkembang di tanah kelahirannya, dan bahkan malah semakin memudar akibat perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah, Abdullah asy-Syattar dikirim ke India oleh gurunya tersebut. Semula ia tinggal di Jawnpur, kemudian pindah ke Mondu, sebuah kota muslim di daerah Malwa (Multan). Di India inilah, ia memperoleh popularitas dan berhasil mengembangkan tarekatnya tersebut.

            Tidak diketahui apakah perubahan nama dari Tarekat Isyqiyah yang dianutnya semula ke Tarekat Syattariyah atas inisiatifnya sendiri yang ingin mendirikan tarekat baru sejak awal kedatangannya di India ataukah atas inisiatif murid-muridnya. Ia tinggal di India sampai akhir hayatnya (1428).

            Sepeninggal Abdullah asy-Syattar, Tarekat Syattariyah disebarluaskan oleh murid-muridnya, terutama Muhammad A'la, sang Bengali, yang dikenal sebagai Qazan Syattari. Dan muridnya yang paling berperan dalam mengembangkan dan menjadikan Tarekat Syattariyah sebagai tarekat yang berdiri sendiri adalah Muhammad Ghaus dari Gwalior (w.1562), keturunan keempat dari sang pendiri. Muhammad Ghaus mendirikan Ghaustiyyah, cabang Syattariyah, yang mempergunakan praktik-praktik yoga. Salah seorang penerusnya Syah Wajihuddin (w.1609), wali besar yang sangat dihormati di Gujarat, adalah seorang penulis buku yang produktif dan pendiri madrasah yang berusia lama. Sampai akhir abad ke-16, tarekat ini telah memiliki pengaruh yang luas di India. Dari wilayah ini Tarekat Syatttariyah terus menyebar ke Mekkah, Madinah, dan bahkan sampai ke Indonesia.

            Tradisi tarekat yang bernafas India ini dibawa ke Tanah Suci oleh seorang tokoh sufi terkemuka, Sibghatullah bin Ruhullah (1606), salah seorang murid Wajihuddin, dan mendirikan zawiyah di Madinah. Syekh ini tidak saja mengajarkan Tarekat Syattariah, tetapi juga sejumlah tarekat lainnya, sebutlah misalnya Tarekat Naqsyabandiyah. Kemudian Tarekat ini disebarluaskan dan dipopulerkan ke dunia berbahasa Arab lainnya oleh murid utamanya, Ahmad Syimnawi (w.1619). Begitu juga oleh salah seorang khalifahnya, yang kemudian tampil memegang pucuk pimpinan tarekat tersebut, seorang guru asal Palestina, Ahmad al-Qusyasyi (w.1661).

            Setelah Ahmad al-Qusyasyi meninggal, Ibrahim al Kurani (w. 1689), asal Turki, tampil menggantikannya sebagai pimpinan tertinggi dan penganjur Tarekat Syattariyah yang cukup terkenal di wilayah Madinah.

            Dua orang yang disebut terakhir di atas, Ahmad al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani, adalah guru dari Abdul Rauf Singkel yang kemudian berhasil mengembangkan Tarekat Syattariyah di Indonesia. Namun sebelum Abdul Rauf. Telah ada seorang tokoh sufi yang dinyatakan bertanggung jawab terhadap ajaran Syattariyah yang berkembang di Nusantara lewat bukunya Tuhfat al-Mursalat ila ar Ruh an-Nabi, sebuah karya yang relatif pendek tentang wahdat al-wujud. Ia adalah Muhammad bin Fadlullah al-Bunhanpuri (w. 1620), juga salah seorang murid Wajihuddin. Bukunya, Tuhfat al-Mursalat, yang menguraikan metafisika martabat tujuh ini lebih populer di Nusantara ketimbang karya Ibnu Arabi sendiri. Martin van Bruinessen menduga bahwa kemungkinan karena berbagai gagasan menarik dari kitab ini yang menyatu dengan Tarekat Syattariyah, sehingga kemudian murid-murid asal Indonesia yang berguru kepada al-Qusyasyi dan Al-Kurani lebih menyukai tarekat ini ketimbang tarekat-tarekat lainnya yang diajarkan oleh kedua guru tersebut. Buku ini kemudian dikutip juga oleh Syamsuddin Sumatrani (w. 1630) dalam ulasannya tentang martabat tujuh, meskipun tidak ada petunjuk atau sumber yang menjelaskan mengenai apakah Syamsuddin menganut tarekat ini. Namun yang jelas, tidak lama setelah kematiannya, Tarekat Syattariyah sangat populer di kalangan orang-orang Indonesia yang kembali dari Tanah Arab.


            Abdul Rauf sendiri yang kemudian turut mewarnai sejarah mistik Islam di Indonesia pada abad ke-17 ini, menggunakan kesempatan untuk menuntut ilmu, terutama tasawuf ketika melaksanakan haji pada tahun 1643. Ia menetap di Arab Saudi selama 19 tahun dan berguru kepada berbagai tokoh agama dan ahli tarekat ternama. Sesudah Ahmad Qusyasyi meninggal, ia kembali ke Aceh dan mengembangkan tarekatnya. Kemasyhurannya dengan cepat merambah ke luar wilayah Aceh, melalui murid-muridnya yang menyebarkan tarekat yang dibawanya. Antara lain, misalnya, di Sumatera Barat dikembangkan oleh muridnya Syekh Burhanuddin dari Pesantren Ulakan; di Jawa Barat, daerah Kuningan sampai Tasikmalaya, oleh Abdul Muhyi. Dari Jawa Barat, tarekat ini kemudian menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sulewasi Selatan disebarkan oleh salah seorang tokoh Tarekat Syattariyah yang cukup terkenal dan juga murid langsung dari Ibrahim al-Kurani, Yusuf Tajul Khalwati (1629-1699).

            Martin menyebutkan bahwa sejumlah cabang tarekat ini kita temukan di Jawa dan Sumatera, yang satu dengan lainnya tidak saling berhubungan. Tarekat ini, lanjut Martin, relatif dapat dengan gampang berpadu dengan berbagai tradisi setempat; ia menjadi tarekat yang paling "mempribumi" di antara berbagai tarekat yang ada. Pada sisi lain, melalui Syattariyah-lah berbagai gagasan metafisis sufi dan berbagai klasifikasi simbolik yang didasarkan atas ajaran martabat tujuh menjadi bagian dari kepercayaan populer orang Jawa.

Ajaran dan Dzikir Tarekat Syattariyah
            Perkembangan mistik tarekat ini ditujukan untuk mengembangkan suatu pandangan yang membangkitkan kesadaran akan Allah SWT di dalam hati, tetapi tidak harus melalui tahap fana'. Penganut Tarekat Syattariyah percaya bahwa jalan menuju Allah itu sebanyak gerak napas makhluk. Akan tetapi, jalan yang paling utama menurut tarekat ini adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Akhyar, Abrar, dan Syattar. Seorang salik sebelum sampai pada tingkatan Syattar, terlebih dahulu harus mencapai kesempurnaan pada tingkat Akhyar (orang-orang terpilih) dan Abrar (orang-orang terbaik) serta menguasai rahasia-rahasia dzikir. Untuk itu ada sepuluh aturan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tarekat ini, yaitu taubat, zuhud, tawakkal, qana'ah, uzlah, muraqabah, sabar, ridla, dzikir, dan musyahadah.

            Sebagaimana halnya tarekat-tarekat lain, Tarekat Syattariyah menonjolkan aspek dzikir di dalam ajarannya. Tiga kelompok yang disebut di atas, masing-masing memiliki metode berdzikir dan bermeditasi untuk mencapai intuisi ketuhanan, penghayatan, dan kedekatan kepada Allah SWT. Kaum Akhyar melakukannya dengan menjalani shalat dan puasa, membaca al-Qur'an, melaksanakan haji, dan berjihad. Kaum Abrar menyibukkan diri dengan latihan-latihan kehidupan asketisme atau zuhud yang keras, latihan ketahanan menderita, menghindari kejahatan, dan berusaha selalu mensucikan hati. Sedang kaum Syattar memperolehnya dengan bimbingan langsung dari arwah para wali. Menurut para tokohnya, dzikir kaum Syattar inilah jalan yang tercepat untuk sampai kepada Allah SWT.

           

            Di dalam tarekat ini, dikenal tujuh macam dzikir muqaddimah, sebagai pelataran atau tangga untuk masuk ke dalam Tarekat Syattariyah, yang disesuaikan dengan tujuh macam nafsu pada manusia. Ketujuh macam dzikir ini diajarkan agar cita-cita manusia untuk kembali dan sampai ke Allah dapat selamat dengan mengendarai tujuh nafsu itu. Ketujuh macam dzikir itu sebagai berikut:
            Dzikir thawaf, yaitu dzikir dengan memutar kepala, mulai dari bahu kiri menuju bahu kanan, dengan mengucapkan laa ilaha sambil menahan nafas. Setelah sampai di bahu kanan, nafas ditarik lalu mengucapkan illallah yang dipukulkan ke dalam hati sanubari yang letaknya kira-kira dua jari di bawah susu kiri, tempat bersarangnya nafsu lawwamah.
            Dzikir nafi itsbat, yaitu dzikir dengan laa ilaha illallah, dengan lebih mengeraskan suara nafi-nya, laa ilaha, ketimbang itsbat-nya, illallah, yang diucapkan seperti memasukkan suara ke dalam yang Empu-Nya Asma Allah.
1.      Dzikir itsbat faqat, yaitu berdzikir dengan Illallah, Illallah, Illallah, yang dihujamkan ke dalam hati sanubari.
2.      Dzikir Ismu Dzat, dzikir dengan Allah, Allah, Allah, yang dihujamkan ke tengah-tengah dada, tempat bersemayamnya ruh yang menandai adanya hidup dan kehidupan manusia.
3.      Dzikir Taraqqi, yaitu dzikir Allah-Hu, Allah-Hu. Dzikir Allah diambil dari dalam dada dan Hu dimasukkan ke dalam bait al-makmur (otak, markas pikiran). Dzikir ini dimaksudkan agar pikiran selalu tersinari oleh Cahaya Ilahi.
4.      Dzikir Tanazul, yaitu dzikir Hu-Allah, Hu-Allah. Dzikir Hu diambil dari bait al-makmur, dan Allah dimasukkan ke dalam dada. Dzikir ini dimaksudkan agar seorang salik senantiasa memiliki kesadaran yang tinggi sebagai insan Cahaya Ilahi.
5.      Dzikir Isim Ghaib, yaitu dzikir Hu, Hu, Hu dengan mata dipejamkan dan mulut dikatupkan kemudian diarahkan tepat ke tengah-tengah dada menuju ke arah kedalaman rasa.

            Ketujuh macam dzikir di atas didasarkan kepada firman Allah SWT di dalam Surat al-Mukminun ayat 17: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu semua tujuh buah jalan, dan Kami sama sekali tidak akan lengah terhadap ciptaan Kami (terhadap adanya tujuh buah jalan tersebut)". Adapun ketujuh macam nafsu yang harus ditunggangi tersebut, sebagai berikut:
·         Nafsu Ammarah, letaknya di dada sebelah kiri. Nafsu ini memiliki sifat-sifat berikut:
Senang berlebihan, hura-hura, serakah, dengki, dendam, bodoh, sombong, pemarah, dan gelap, tidak mengetahui Tuhannya.
·         Nafsu Lawwamah, letaknya dua jari di bawah susu kiri. Sifat-sifat nafsu ini: enggan, acuh, pamer, 'ujub, ghibah, dusta, pura-pura tidak tahu kewajiban.
·         Nafsu Mulhimah, letaknya dua jari dari tengah dada ke arah susu kanan. Sifat-sifatnya: dermawan, sederhana, qana'ah, belas kasih, lemah lembut, tawadlu, tobat, sabar, dan tahan menghadapi segala kesulitan.
·         Nafsu Muthmainnah, letaknya dua jari dari tengah-tengah dada ke arah susu kiri. Sifat-sifatnya: senang bersedekah, tawakkal, senang ibadah, syukur, ridla, dan takut kepada Allah SWT.
·         Nafsu Radhiyah, letaknya di seluruh jasad. Sifat-sifatnya: zuhud, wara', riyadlah, dan menepati janji.
·         Nafsu Mardliyah, letaknya dua jari ke tengah dada. Sifat-sifatnya: berakhlak mulia, bersih dari segala dosa, rela menghilangkan kegelapan makhluk.
·         Nafsu Kamilah, letaknya di kedalaman dada yang paling dalam. Sifat-sifatnya: Ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin.

            Khusus dzikir dengan nama-nama Allah (asmaul husna), tarekat ini membagi dzikir jenis ini ke dalam tiga kelompok. Yakni: 

  • Menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya, seperti al-Qahhar, al-Jabbar, al-Mutakabbir, dan lain-lain 
  • Menyebut nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya seperti, al-Malik, al-Quddus, al-'Alim, dan lain-lain
  • Menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut, seperti al-Mu'min, al-Muhaimin, dan lain-lain. Ketiga jenis dzikir tersebut harus dilakukan secara berurutan, sesuai urutan yang disebutkan di atas. Dzikir ini dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang, sampai hati menjadi bersih dan semakin teguh dalam berdzikir. Jika hati telah mencapai tahap seperti itu, ia akan dapat merasakan realitas segala sesuatu, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani.


Share:

Paper Tarekat Syadziliyah

TAREKAT SYADZILIYAH


Dinisbatkan kepada Nur Ad-Din Ahmad Asy-Syadzili (593-656 H/ 1196-1258 M). Secara pribadi, Asy-Syadzili tidak meninggalkan karya tasawuf, begitu uga muridnya, abdul abbas al-mursi, kecuali hanta sebai ajaran lisan tasawuf, doa, hizib. Ibnu ath-thaillah as-sukandari adalah orang pertama yang menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa, dan biografi keduanya sehingga khazanah tarekat syadziliyah tetap terpelihara. Ibnu ath-thaillah juga orang tang pertama menyusun karya paripurna tentang aturan-aturan tarekat tersebut, pokok-pokoknya, prinsip-prinsipnya, bagi angkatan-angkatan setelahnya .
            Melalui sirkulasi karya-karya ibnu ath-athaillah, tarekat syadziliyah mulai tersebar sampai ke barat, sebuah negara yang pernah menolak sang guru.akan tetapi, ia tetap merupakan tradisi individualistik yang hampir mati, meskipun temaini tidak dipakai yang menitikberatkan pengembangan sisi dalam. Syadzili tidak mengenal atau menganjurkan murid-muridnya untuk melakukan aturan atau ritual yang khas dan tidak satupun yang berbentuk ke shalehan popoler yang digalakan. Akan tetapi, muri-muridnya tetap mempertahankan ajarannya. Para murid melaksanakan tarekat sadziliyah di zawiyah-zawiyah yang tersebar tanpa mempunyai hubungan satu dengan yang lain.
          
1) Sejarah singkat Tarekat Syadziliyah
            Secara lengkap nama pendiri tarekat ini adalah Ali bin Abdullah bin ‘Abd Al Jabbar Abu al-Hasan al-Syadzili. Dia di lahirksn di desa Ghumara, dekat Ceuta, di Utara Maroko pada tahun 573 H. Asy-Syadzili meninggal pada tahun 656 H/ 1258 M di humaithra, dekat pantai laut Merah. Tarekat ini berdiri pada abad ke-7 H/ 13 M.

2) Ciri Tarekat Syadziliyah
  • kalangan kelas menengah, pengusaha, pejabat dan pegawai negeri.
  • tidak begitu membebani pengikutnya dengan ritual-ritual yang memberatkan seperti yang terdapat dalam tarekat-tarekat yang lainnya.
  •  Setiap anggota tarekat ini wajib mewujudkan semangat tarekat di dalam kehidupan dan lingkungannya sendiri.
  • mereka tidak diperbolehkan mengemis atau mendukung kemiskinan.
  • kerapian mereka dalam berpakaian.


3) Ajaran

            Adapun ajaran-ajaran tarekat al-syadziliyah, yaitu :
  • Tidak menganjurkan murid-muridnya untuk meninggalkan profesi mereka.
  • Tidak mengabaikan dalam menjalankan syari’at islam.
  • Zuhud tidak berarti harus menjauhi dunia karena pada dasarnya zuhud adalah mengosongkan hati dari selain Tuhan.
  • Tidak ada larangan bagi kaum salik untuk menjadi miliuner.
  • Berusaha merespons apa yang sedang mengancam kehidupan umat
  • Tasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka ibadah dan menempatkan diri sesuai dengan ketentuan Allah.
  • Ma’rifat adalah salah satu tujuan ahli tarekat atau tasawuf yang dapat di peroleh dengan dua jalan.


4) Lima sendi yang ada pada tarekat syadziliyah
  1. Ketaqwaan terhadap Allah SWT lahir batin, yang diwujudkan dengan jalan bersikap wara’ dan Istiqamah dalam menjalankan perintah Allah subhanahu wata’ala.
  2. Konsisten mengikuti Sunnah Rasululkah SAW, baik dalam ucapan maupun perbuatan, yang direalisasikan dengan selalu bersikap waspada dan bertingkah laku yang luhur.
  3. Berpaling (hatinya) dari makhluk, baik dalam penerimaan maupun penolakan, dengan berlaku sadar dan berserah diri kepada Allah SWT {Tawakkal}.
  4. Ridha kepada Allah, baik dalam kecukupan maupun kekurangan, yang diwujudkan dengan apa adanya {qana’ah/tidak rakus} dan menyerah.
  5. Kembali kepada Allah, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah, yang diwujudkan dengan jalan bersykur dalam keadaan senang dan berlindung kepada-Nya dalam keadaan susah.


5) Pengaruh tarekat di dunia islam
            Tarekat memengaruhi dunia islam mulai dari abad ke-13. Kedudukan tarekat saat itu sama dengan partai politik. Bahkan tentara juga menjadi anggota tarekat.
            Tarekat keagamaan meluaskan pengaruh dan organisasinya ke seluruh pelosok negeri; menguasai masyarakat melalui suatu jenjang yang terancang dengan baik; dan memberikan otonomi kedaerahan seluas-luasnya. Setiap desa atau kelompok desa memiliki wali lokal yang di dukung dan dimuliakan sepanjang hidupnya, bahkan dipuja dan diagung-agungkan setelah kematiannya.   Akan tetapi pada saat-saat itu telah terjadi penyelewengan di dalam tarekat-tarekat. Penyelewengan ini, antara lain terjadi dalam paham wasilah, yaitu paham yang menjelaskan bahwa permohonan seseorang tidak bisa dialamatkan langsung kepada Allah SWT., tetapi harus melalui guru, guru ke gurunya, demikian seterusnya sampai kepada Syekh, baru bisa bertemu dengan Allah atau berhubungan dengan Allah SWT.
            Disamping itu, tarekat umumnya hanya berorientasi akhirat, tidak mementingkan dunia. Tarekat menganjurkan banyak beribadah dan jangan mengikuti dunia karena, “Dunia ini adalah bangkai, yang mengejar dunia adalah anjing.” Ajaran ini tampaknya menyelewengkan umat islam dari jalan yang ditempuhnya. Demikian juga, sifat tawakal, menunggu apa saja yang akan datang, qadha dan qadar yang sejalan dengan paham Asy-‘Ariyah. Para pembaharu dalam dunia islam melihat bahwa tarekat bukan hanya mencemarkan paham tauhid, melainkan membawa kemunduran bagi umat islam.
            Oleh karena itu pada abad ke-19, mulailah timbul pemikiran yang sinis kepada tarekat dan juga terhadap tasawuf. Banyak orang menentang dan meninggalkan tarekat atau tasawuf. Pada mulanya, Muhammad abduh sebenarnya adalah pengikut tarekat yang patuh, tetapi setelah bertemu Jamaluddin Al-afghani, ia berubah pendirian dengan meninggalkan tarekatnya dan mementingkan dunia, disamping akhirat. Begitu juga Rasyid Ridha, setelah melihat bahwa tarekat membawa kemunduran pada uamt islam, ia meninggalkan tarekat dan memusatkan perhatiannya pada upaya memajukan umat islam.
            Akan tetapi, akhir-akhir ini perhatian pada tasawuf timbul kembali karena dipengaruhi oleh paham materalisme. Orang-orang Barat melihat bahwa materalisme memerlukan sesuatu yang bersifat rohani, yang bersifat immateri sehingga banyak orang yang kembali memerhatikan tasawuf.
            Pengaruh khusus pada tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyah, dan Syadziliyah
Sejak Tarekat Qadiriyah berada di Indonesia dan di tempat-tempat lain, orang masih menyelenggarakan Manakib Syekh ‘Abd al-Qadir al-Jailani. Riwayat hidup dan karamahnya masih dibaca orang untuk mendapatkan barakahnya. Kekhasan tarekat ini masih survive sebagai tarekat pelopor yaitu pengucapan dzikir Jahar bahkan menjadi bagian/dasar dari sebagian tarekat yang lahir kemudian.

       Tanda utama Tarekat Syadziliyah masih dapat dirasakan hingga saat ini yaitu dengan variasi Hizb-nya. Dan terutama Hizb Al-Bahr yang dikenal sangat memberi pengaruh yang kuat bagi pengamalnya. Hizb-hizb tersebut tidak boleh diamalkan oleh semua orang, kecuali telah mendapatkan izin atau ijazah dari Mursyid atau seorang wakil yang ditunjuk oleh Mursyid untuk mengijazahkannya.
            Pengaruh Tarekat Naqsyabandiyah ini masih dapat ditemui dengan adanya orang yang melakukan dzikir dalam hati bahkan hingga menolak adanya seni musik dan tari dikarenakan seni musik dan tari dapat mengakibatkan adanya ketidakkhusyuan dalam melakukan dzikir.
Share:

Thursday, May 19, 2016

Paper Tarekat Suhrawardiyah


TAREKAT SUHRAWARDIYAH 

                 Dalam agama Islam, banyak sekali aliran keagamaan yang berkembang, baik dalam bidang ilmu kalam (theology) atau akidah, fiqh, tasawuf dan lainnya. Dibandingkan bidang theologi (kalam) dan fiqh, aliran yang paling banyak berkembang adalah tasawuf. Setidaknya, banyak cara umat Islam mendekatkan diri kepada Allah melalui pendekatan olah spiritual (hati), khususnya tasawuf.

1).    Biografi Suhrawardi

  Nama lengkap Suhrawardi adalah Abu al-Futuh Yahya bin Habash bin Amirak Shihab al-Din as-Suhrawardi al-Kurdi, lahir pada tahun 549 H/ 1153M di Suhraward, sebuah kampung di kawasan Jibal, Iran Barat Laut dekat Zanjan. Ia memiliki sejumlah gelar : Shaikh al-Ishraq, Master of Illuminationist, al-Hakim, ash-Shahid, the Martyr, dan al-Maqtul.
  Sebagaimana umumnya para intelektual muslim, Suhrawardi juga melakukan perjalanan ke berbagai daerah untuk mengembangkan wawasannya. Wilayah pertama yang ia kunjungi adalah Maragha yang berada di kawasan Azerbaijan. Di kota ini ia belajar filsafat, hukum dan teologi kepada Majd al-Din al-Jili. Untuk memperdalam kajian filsafat ia juga berguru pada Fakhr al-Din al-Mardini. Tampaknya tokoh terakhir ini merupakan guru filsafat yang sangat berpengaruh bagi Suhrawardi.
  Pengembaraan ilmiahnya kemudian berlanjut ke Isfahan, Iran Tengah dan belajar logika kepada Zahir al-Din al-Qari. Dia juga mempelajari logika dari buku al-Basa’ir al-Nasiriyyah karya Umar ibn Sahlan al-Sawi. Dari Isfahan ia melanjutkan perjalanannya ke Anatolia Tenggara dan diterima dengan baik oleh pangeran Bani Saljuq. Setelah itu pengembaraan Suhrawardi berlanjut ke Persia yang merupakan “gudang” tokoh-tokoh sufi. Di sini ia tertarik kepada ajaran tasawuf dan akhirnya menekuni mistisisme. Dalam hal ini Suhrawardi tidak hanya mempelajari teori-teori dan metode-metode untuk menjadi sufi, tetapi sekaligus mempraktekkannya sebagai sufi sejati. Dia menjadi seorang zahid yang menjalani hidupnya dengan ibadah, merenung, kontemplasi, dan berfilsafat. Dengan pola hidup seperti ini akhirnya dalam diri Suhrawardi terkumpul dua keahlian sekaligus, yakni filsafat dan tasawuf. Dengan demikian ia dapat dikatakan sebagai seorang filosof sekaligus sufi.
  Perjalanannya berakhir di Aleppo, Syria. Di sini ia berbeda pandangan dengan para fuqaha sehingga akhirnya ia dihukum penjara oleh gubernur Aleppo Malik al-Zahir atas perintah ayahnya Sultan Salahuddin al-Ayyubi di bawah tekanan para fuqaha yang tidak suka dengan pandangannya. Akhirnya Suhrawardi meninggal pada 29 Juli 1191 M/578 H dalam usia 36 tahun (Shamsiyyah) atau 38 tahun (qamariyyah). Namun demikian penyebab langsung kematiannya tidak diketahui secara pasti, hanya menurut Ziai ia mati karena dihukum gantung. Kematiannya yang tragis ini merupakan konsekuensi yang harus ia terima atas pandangannya yang berseberangan dengan para tokoh pada masa itu.

2).    Karya-karya Suhrawardi

      Suhrawardi adalah sosok pemuda yang cerdas, kreatif, dan dinamis. Ia termasuk dalam jajaran para filosof-sufi yang sangat produktif sehingga dalam usianya yang relatif pendek itu ia mampu melahirkan banyak karya. Hal ini menunjukkan kedalaman pengetahuannya dalam bidang filsafat dan tasawuf yang ia tekuni.
Dalam konteks karya-karyanya ini, Hossein Nasr mengklasifikasikan-nya menjadi lima kategori sebagai berikut :
a.    Memberi interpretasi dan memodifikasi kembali ajaran peripatetik. Termasuk dalam kelompok            ini antara lain kitab : At-Talwihat al-Lauhiyyat al-‘Arshiyyat, Al-Muqawamat, dan Hikmah                  al-‘Ishraq.
b.    Membahas tentang filsafat yang disusun secara singkat dengan bahasa yang mudah dipahami :            Al-Lamahat, Hayakil al-Nur, dan Risalah fi al-‘Ishraq.
c.    Karya yang bermuatan sufistik dan menggunakan lambang yang sulit dipahami : Qissah al-                  Ghurbah al Gharbiyyah, Al-‘Aql al-Ahmar, dan Yauman ma’a Jama’at al-Sufiyyin.
d.    Karya yang merupakan ulasan dan terjemahan dari filsafat klasik : Risalah al-Tair dan Risalah fi          al-‘Ishq.
e.    Karya yang berupa serangkaian do’a yakni kitab Al-Waridat wa al-Taqdisat.
 `    Banyaknya karya ini menunjukkan bahwa Suhrawardi benar-benar menguasai ajaran agama-               agama terdahulu, filsafat kuno dan filsafat Islam. Ia juga memahami dan menghayati doktrin-             doktrin tasawuf, khususnya doktrin-doktrin sufi abad III dan IV H.

            Oleh karena itu tidak mengherankan bila ia mampu menghasilkan karya besar serta memunculkan sebuah corak pemikiran baru, yang kemudian dikenal dengan corak pemikiran mistis-filosofis (teosofi).

Ajaran Tarekat Suhrawardiyah

         Sebagaimana ditegaskan oleh Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani bahwa, ajaran dan ritual Tarekat Suhrawardiyah terdapat pada kitab Awarif al-Ma’arif yang banyak membicarakan tentang latihan rohani praktis. Maka dapat dirangkum bahwa ajaran dan ritual Tarekat Suhrawardiyah itu terdiri dari :
1.    Ma’rifah, yaitu mengenal Allah melalui sifat-sifat Allah dalam bentuk terinci dengan memahami        bahwa Allah saja-lah Wujud Hakiki dan Pelaku Mutlak selanjutnya menjadi mahabbah kepada            Allah dalam pengabdian dan sujud dihadapan Allah.

Ma’rifah ini terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu :
a.    Setiap akibat yang timbul adalah berasal dari Pelaku Mutlak (Allah);
b.    Setiap akibat yang berasal dari Pelaku Mutlak adalah hasil dari sifat tertentu yang dimiliki Allah;
c.    Dalam keangungan setiap sifat Allah, diketahui maksud dan tujuan Allah;
d.    Sifat Ilmu Allah, diketahui dalam ma’rifah-Nya sendiri.

2.    Faqr, yaitu tidak memiliki harta, seorang penempuh jalan hakikat tidak akan sampai ke tujuan,            Faqr dalam diri manusia pemilik hakikat adalah sebuah sifat alami, baik memiliki atau tidak                memiliki harta, sifat alami itu tidak akan berubah.

Dalam hal ini ada beberapa golongan Faqr, yaitu :
a.    Mereka yang memandang dunia dan harta bukan sebagai kekayaan, jika mereka memiliki harta,          mereka akan memberikannya kepada orang lain, sebab mereka tidak menginginkannya dalam              kehidupan dunia ini, tetapi di akhirat nanti;
b.    Mereka yang tidak memperhitungkan amal-amal dan ibadahnya, meski semua itu bersumber dari        dirinya dan tidak mengharapkan ganjaran apa pun;
c.    Mereka yang dengan kedua sifat ini tidak memandang hal dan maqamnya, semua itu mereka               pandang sebagai anugeral Allah;
d.    Mereka yang tidak menganggap zat dan eksistensi mereka sendiri sebagai milik mereka. Zat,              kualitas, Hal, maqam dan amal mereka tidaklah ada dan bukan apa-apa serta tidak meninggalkan        apa-apa di dunia dan di akhirat.

3.    Tawakkul, yaitu mempercayakan segala urusan kepada Pelaku Mutlak (Allah), mempercayakan          jaminan rezki kepada-Nya. Tawakkul adalah hasil dari kebenaran keimanan melalui                              pertimbangan yang baik dan takdir. Tawakkul ini terbagi kepada dua, pertama Tawakkul al-                inayah, artinya tawakal dalam anugerah Allah, kedua tawakkul al-kifayah, artinya tawakal                dalam keindahan dan kehendak Allah, bukan tawakal dalam kecukupan.

4.    Mahabbah, artinya Cinta kepada Allah, Mahabbah adalah kecenderungan hati untuk                            memperhatikan keindahan atau kecantikan.

Ada dua jenis mahabbah :
1). Mahabbah ‘am, yaitu mahabbah yang memiliki sifat :
a.    kecenderungan hati untuk memperhatikan keindahan sifat-sifat;
b.    Sebuah bulan muncul karena memandang sifat-sifat keindahan;
c.    Seberkas cahaya yang mengisi wujud;
d.    Sebuah tanda yang berkata “aku meniru apa yang murni dan mengucapkan selamat tinggal pada          apa yang sangat gamblang”;
e.    Anggur terbaik, tersegel dan terperam oleh waktu;
f.    Sejenis anggur yang murni dan tidak murni, jernih dan kotor, ringan dan berat.

2). Mahabbah Khas, memiliki sifat :
a.    Kecenderungan jiwa untuk menyaksikan keindahan zat;
b.    Bagaikan matahari, yang terbit dari horizon zat;
c.    Api yang memurnikan wujud;
d.    Sebuah tanda yang berkata “jangan hidup dan jangan terbakar”;
e.    Benar-benar sumber murni;
f.    Sejenis anggur kemurnian dalam kemurnian, kejernihan dalam kejernihan dan kekeringan dalam         kekeringan.

5.    Fana’ dan Baqa’, Fana’ artinya akhir dari perjalanan menuju Allah, sementara Baqa’ artinya awal dari perjalanan dalam Allah. Perjalan menuju Allah berakhir ketika dengan ketulusan. Perjalanan di dalam Allah bisa diuji ketika, sesudah fana’ mutlak.
Ada yang mengatakan fana’ berarti :
a.    Fana’ dalam berbagai perbedaan;
b.    Menurunnya keinginan akan segala kesenangan duniawi;
c.    Menurunnya keinginan akan segala kesenangan akan dunia dan akhirat nanti;
d.    Menurunnya kadar sifat-sifat tercela;
e.    Tersembunyinya segala sesuatu.
Sementara Baqa’ berarti :
1.    Baqa’ dalam keselarasan;
2.    Baqa’ dalam kesenanagan kehidupan di akhirat kelak;
3.    Baqa’ dalam kesenangan di dalam Allah;
4.    Baqa’ dalam sifat-sifat terpuji;
5.    Kehadiran Allah. Fana terbagi pula kepada dua, yaitu Fana’ lahiriyah (fana dalam bebrbagai                perbuatan dan keangungan berbagai perbuatan Ilahi) dan Fana bathiniyah (Fana dalam sifat dan          zat).

 Pemikiran Teosofis Suhrawardi

      Secara etimologis kata teosofi berasal dari kata theosophia, gabungan dari kata theos yang berarti Tuhan dan shophia yang berarti knowledge, doctrine, dan wisdom. Jadi secara literal teosofi adalah pengetahuan atau keahlian dalam masalah-masalah ketuhanan.
      Dalam kaitan dengan bidang kajiannya, ada term lain yang mirip dengan teosofi, yaitu teologi. Kedua istilah ini mengacu pada pembahasan terhadap masalah-masalah ketuhanan, perbedaannya terletak pada operasionalnya. Di dalam mengkaji masalah ketuhanan, teologi menggunakan pendekatan spekulatif-intelektual dalam menginterpretasikan hubungan antara manusia, alam semesta, dan Tuhan. Sementara teosofi lebih menukik pada inti permasalahan dengan menyelami misteri-misteri ketuhanan yang paling dalam. Orang yang ahli dalam bidang teologi disebut teolog sementara orang yang ahli teosofi dinamakan teosofos.
       Dalam pemahaman Suhrawardi, pengertian teosofos menjadi lebih luas. Menurutnya teosofos adalah orang yang ahli dalam dua hikmah sekaligus, yakni hikmah nazariyyah dan hikmah ‘amaliyyah. Adapun yang dimaksud dengan hikmah nazariyyah ialah filsafat sementara hikmah ‘amaliyyah ialah tasawuf.
       Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa teosofi adalah pemahaman tentang misteri-misteri ketuhanan yang diperoleh melalui pemikiran filosofis-sufistis sekaligus, sedangkan teosofos adalah orang yang mampu mengawinkan latihan intelektual teoritis melalui filsafat dengan penyucian jiwa melalui tasawuf dalam mencapai pemahaman tersebut.

Share:

Paper Tarekat Rifa'iyah

TAREKAT RIFA’IYAH

               Dalam agama Islam, banyak sekali aliran keagamaan yang berkembang, baik dalam bidang ilmu kalam (theology) atau akidah, fiqh, tasawuf dan lainnya. Dibandingkan bidang theologi (kalam) dan fiqh, aliran yang paling banyak berkembang adalah tasawuf. Setidaknya, banyak cara umat Islam mendekatkan diri kepada Allah melalui pendekatan olah spiritual (hati), khususnya tasawuf.

        Dalam ilmu tasawuf, salah satu upaya yang dikembangkan untuk Taqarrub Ilallah (mendekatkan diri kepada Allah) adalah mengikuti tarekat. Kata Tarekat berasal dari bahasa Arab, yakni thariqah, yang artinya jalan. Sedikitnya terdapat 42 tarekat mu'tabarah (terkenal) di dunia. Mulai dari Tarekat Qadiriyah, Naqsabandiyah, Syadziliyah, Sammaniyah, Tijaniyah, Khalwatiyah, Syattariyah, Khalidiyah, Mufaridiyah, hingga Rifa'iyah.

1) Sejarah Munculnya Tarekat Rifa'iyah

  Tarekat Rifa'iyah, Khususnya, pertama kali muncul dan berkembang di wilayah Irak bagian Selatan. Pendirinya adalah Abul Abbas Ahmad bin Ali ar-Rifa'i. Ia lahir di Qaryah Hasan, dekat Basrah, Irak bagian selatan, pada tahun 500 H/ 1106 M. Sedangkan, sumber lain menyebutkan, ia lahir pada tahun 512 H/ 1118 M.
        Abu Bakar Aceh dalam buku pengantar Ilmu Tarekat, Kajian Historis tentang Mistik memaparkan, ar-Rifa'i menghabiskan hampir seluruh hidupnya di wilayah Irak bagian Selatan. Sewaktu berusia tujuh tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia lalu diasuh pamannya, Mansur al-Batha'ihi, seorang syekh Tarekat. Selain menuntut ilmu pada pamannya tersebut, ia juga berguru pada pamannya yang lain, Abu al-Fadhl Ali al-Wasiti, terutama tentang mazhab fiqh Imam Syafi'i. Pada usia 21 tahun, ia telah berhasil memperoleh ijazah dari pamannya dan khirqah sembilan sebagai pertanda sudah ada wewenang untuk mengajar. John L Esposito dalam Ensiklopedia Oxford: Duni Islam        Modern menyebutkan, garis keturunan sufi ar-Rifa'i sampai kepada Junaid al-Baghdadi [wafat 910 M] dan Sahl al-Tustari [wafat 896 M]. Pada tahun 1145 M, ar-Rifa'i menjadi syekh tarekat ini ketika pamannya (yang juga merupakan syekh/gurunya) menunjuknya sebagai pengganti. Dia kemudian mendirikan pusat tarekat sendiri di Umm Abidah, sebuah desa di Distrik Wasit tempat dia wafat kelak.
        Tarekat Rifa'iyah berbeda dengan organisasi kemasyarakatan Rifa'iyah yang ada di Indonesia. Organisasi kemasyarakata Rifa'iyah didirikan oleh Syekh Haji Ahmad ar-Rifa'i al-Jawi bin Muhammad bin Abi Sujak bin Sutjowijoyo, lahir pada tanggal 9 Muharram 1200 H/ 1786 M, di desa Tempuran Kabupaten Kendal.

2) Perkembangan Tarekat Rifa'iyah

  Tarekat Rifa'iyah yang juga merupakan tarekat sufi sunni ini, memainkan peran penting dalam pelembagaan sufisme. Di bawah bimbingan ar-Rifa'i, tarekat ini tumbuh subur. Dalam waktu yang tidak begitu lama, tarekat ini berkembang keluar Irak, di antaranya Mesir dan Syria. Hal tersebut disebabkan murid-murid tarekat ini menyebar ke seluruh Timur Tengah. Dalam perkembangan selanjutnya, Tarekat Rifa'iyah berkembang di kawasan Anatolia, Turki, Eropa Timur, wilayah Kaukasus dan kawasan Amerika Utara. Para murid Rifa'iyah membentuk cabang-cabang baru di tempat-tempat tersebut. Setelah beberapa lama, jumlah cabang Tarekat Rifa'iyah meningkat dan posisi Syekh pada umumnya turun temurun. Tarekat ini juga tersebar luas di Indonesia, misalnya di daerah Aceh terutama di bagian barat dan utara, Jawa, Sumatera Barat dan Sulawesi. Namun di daerah Aceh, tarekat ini dikenal dengan sebutan Rafai, yang memiliki makna tabuhan rabana yang berasal dari perkataan dan penyebar tarekat ini. Meskipun berada di tempat-tempat lain, menurut Esposito, "Tarekat Rifa'iyah paling signifikan berada di Turki, Eropa Tenggara, Mesir, Palestina, Suriyah, Irak dan Amerika Serikat. Pada akhir masa kekuasaan Turki Utsmaniyah [Ottoman], Rifa'iyah merupakan terekat penting. Keanggotaannya meliputi sekitar tujuh persen dari jumlah orang yang masuk tarekat sufi di Istanbul". Tulis Esposito.

3) Pendiri Tarekat Rifa'iyah

  Tarekat Rifa'iyah didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bin Ali ar-Rifa'i. Ia lahir di daerah Irak bagian selatan, tepatnya di Qaryah Hasan, Basrah, tentang kelahirannya simpan siur ada yang mengatakan sekitar tahun 1106 M. Namun ada juga yang mengatakan tahun 1118 M. Ia mendapat gelar Muhyiddin (penghidup agama) dan Sayyid al-Arifin (penghulu para orang Arif). Ia terkenal dengan spiritualnya yang sangat tinggi. Menurut sejumlah literatur, Syekh Ahmad Rifa'i ini dikenal sebagai orang yang sangat tawadhu dan sangat menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah subhanahu wata'ala. Bahkan sejumlah pengikutnya meyakini Syekh ar-Rifa'i mendapat anugerah dari Allah, sebagai salah seorang yang mampu menyembuhkan penyakit lepra, kebutaan dan lainnya. Sejak kecil ia sudah memiliki berbagai keistimewaan. Pada usia 21 tahun ia sudah mendapatkan ijazah dari pamannya untuk mengajar. Syekh Rifa'i wafat pada tahun 587 Hijriyah.

4) Ajaran Dasar

  Dalam beberapa cabang, pengikut Rifa’iyah harus mengasingkan diri dan melakukan penyendirian spiritual (khalwat). Praktik ini biasanya dilakukan paling sedikit selama satu pekan pada awal Muharram.

  Menurut Sayyid Mahmud Abul Al-Faidl Al-Manufi, Tarekat Rifa’iyah mempunyai tiga ajaran dasar, yaitu tidak meminta sesuatu, tidak menolak, dan tidak menunggu.

  Sementara itu, menurut Asy-Sya’rani, tarekat ini menekankan pada ajaran asketisme (zuhud) dan makrifat (puncak tertinggi dalam ajaran tasawuf).

  Dalam pandangan Syekh Ar-Rifa’i, sebagaimana diriwayatkan Asy-Sya’rani, asketisme merupakan landasan keadaan-keadaan yang diridhai dan tingkatan-tingkatan yang disunahkan.

  Asketisme adalah langkah pertama orang menuju kepada Allah, mendapat ridha dari Allah, dan bertawakal kepada Allah. “Barangsiapa belum menguasai landasan kezuhudan, langkah selanjutnya belum lagi benar,” kata Syekh Ar-Rifa’i,

  Mengenai makrifat, Syekh Ar-Rifa’i berpendapat bahwa penyaksian adalah kehadiran dalam makna kedekatan kepada Allah disertai ilmu yakin dan tersingkapnya hakikat realitas-realitas secara benar-benar yakin. Menurutnya, cinta mengantar rindu dendam, sedangkan makrifat menuju kefanaan ataupun ketiadaan diri.

  Irhamni MA dalam tulisannya mengenai Syekh Ahmad Ar-Rifa’i mengungkapkan bahwa pendiri Tarekat Rifa’iyah ini semasa hidupnya pernah mengubah sebuah puisi bertema Cinta Ilahi.

Andaikan malam menjelang, begitu gairah kalbuku mengingat-Mu. Bagai merpati terbelenggu atau meratap tanpa jemu. Di atasku awan menghujani derita dan putus asa. Di bawahku lautan menggelorai kecewa.
Tanyalah atau biarlah mereka bernyawa. Bagaimana tawanan-Nya bebaskan tawanan lainnya. Sementara dia bisa dipercaya tanpa-Nya. Dan dia tidak terbunuh, kematian itu istirah baginya. Bahkan, dia tidak dapat maaf sampai bebas karenanya.

  Syair di atas merupakan salah satu bentuk asketisme yang dilakukan Syekh Ahmad Rifa’i dalam mencapai hakikat tertinggi mengenal Allah, yakni makrifat.

Share:

Paper Tarekat Qadariyah



TAREKAT QADARIYAH

          Tarekat ini didirikan oleh Muhy Ad-Din Abd Al-Qadir al-Jailani (471 H/1078 M). Tarekat Qadiriyah adalah nama sebuah tarekat yang didirikan oleh Syekh Abdul Qadir Jailani. Nama lengkapnya adalah Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi salih Zangi Dost Al-Jailani (470 H/1077M – 561 H/1166 M) . Tarekat Qadiriyah berkembang dan berpusat di Irak dan siria kemudian diikuti oleh jutaan umat muslim yang terbesar di Yaman, Turki, Mesir, india, Afrika, dan Asia. Tarekat ini sudah berkembang sejak abad ke-13 M. Sekalipun demikian, tarekat ini baru terkenal di dunia pada abad ke-15 M. Di Mekah, tarekat Qadiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M.
  Tarekat Qadiriyah dikenal luwes, yaitu apabila sudah mencapai derajat Syekh, murid tidak mempunyai keharusan untuk terus mengikuti tarekat gurunya. Bahkan, dia berhak melakukan modifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya. Hal tersebut tampak pada ungkapan Abdul Qadir jailani, “Bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya, dia menjadi mandiri sebagai Syekh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya.”
  Karena keluwesan tersebut, terdapat puluhan tarekat yang masuk ke dalam kategori Qadiriyah di dunia Islam, seperti Banawa yang berkembang pada abad ke-19,ghawtsiyah (1517), junaidiyah (1515 M), Kamaliyah (1584 M), dan lain-lain, semuanya dari India. Di Turki, terdapat tarekat hindiyah, khulusyiyah, dll. Di yaman, ada tarekat ahdaliyah, asadiyah, musyariyah. Adapun di afrika, diantaranya terdapat tarekat ammariyah, bakka’iyah, dan sebaginya.

1) Sejarah singkat pendiri Tarekat Qadiriyah

  Pendiri tarekat Qadiriyah adalah ‘Abd al-Qadir Jailani, yang terkenal dengan sebutan Syaikh ‘Abd al-Qadir Jailani al-ghawts. Beliau lahir di desa Naif Kota Ghilan (470 H/1077 M) dan meninggal di Baghdad pada tahun 561/1166. Menurut Triminghan sebagaimana yang dikutip oleh Martim Van Bruinessem, mengatakan bahwa pada tahun 1300 M tarekat Qadiriyah sudah ada di Irak dan Suriah.


2)  Ciri tarekat Qadiriyah

  • Dzikir bersama.
  • Senantiasa membacakan sajak dan qasidah diiringi musik rebana.
  • Melakukan dzikir Nafi wa itsbat, diiringi dengan rebana.
  • Seluruh badan ikut berdzikir.
  • Adanya adegan debus atau magis.
  • Tunduk dibawah garis keturunan takdir dengan kesesuaian hati dan roh.
  • Memisahkan diri dari kecenderungan nafsu.


3)   Ajaran tarekat Qadiriyah

  Ajaran syekh Abb al-Qadir selalu menekankan pada pensucian diri dari nafsu dunia. Karena itu memberikan beberapa petunjuk untuk mencapai kesucian diri yang tertinggi. Adapun ajaran-ajaran tersebut adalah:
1. Taubat
  Taubat adalah kembali kepada Allah dengan mengurai ikatan dosa yang terus menerus dari hati kemudian melaksanakan hak Tuhan.
Menurut syekh Abd Qadir jailani, taubat ada dua macam, yaitu:
  Taubat yang berkaitan dengan hak sesama manusia.Taubat ini tidak terealisasi kecuali dengan menghindari kezaliman,   memberikan hak kepada yang berhak, dan mengembalikan kepada pemiliknya.
  Taubat yang berkaitan dengan hak Allah. Taubat ini dilakukan dengan cara selalu mengucapkan istighfar dengan lisan, menyesal dalam hati, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang.

2. Zuhud
     Menurut ‘Abd al-Qadi jailani, zuhud ada dua macam, yaitu:
  Zuhud hakiki yaitu mengeluarkan dunia dari hatinya.  Hal ini bukan berarti bahwa seseorang menolak rezeki yang diberikan Allah kepadanya, tetapi di mengambilnya lalu digunakan untuk ketaatan kepada Allah.
  Zuhud lahir yaitu mengeluarkan dunia dari hadapannya.  Berarti bahwa harus menahan hawa nafsu (sesuatu yang kita sayangi) serta menolak semua tuntutannya.

3. Tawakal
  Syekh ‘Abd al-Qadir Jailani menekankan pentingnya tawakal dengan mengutip sebuah sabda Nabi,”bila seseorang menyerahkan dirinya secara penuh kepada Allah, maka Allah akan mengaruniakan apa saja yang diminta. Begitu juga sebaliknya, bila dengan bulat ia mnyerahkan dirinya kepada dunia, maka Allah akan membiarkan dirinya dikuasai oleh dunia.” Semakin banyak orang yang mengejar dunia, maka semakin lupa dia akan akhirat, sebagai mana dinyatakan dalam sabda Nabi,”Apabila ingatan manusia telah condong kepada dunia, maka ingatannya kepada akhirat berkurang.”

4. Syukur
  Syekh ‘Abd al-Qadir Jailani membagi syukur menjadi tiga macam, yaitu:
  Syukur dengan lisan, yaitu dengan mengakui adanya nikmat dan merasa tenang. Dalam hal ini si penerima nikmat mengucapkan nikmat Tuhan dengan segala kerendahan hati dan ketundukkan.
  Syukur dengan badan atau anggota badan, yaitu dengan cara melaksanakan dan pengabdian serta melaksanakan ibadah sesuai dengan perintah Allah. Dalam hal ini, si penerima nikmat selalu berusaha mnjalankan perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya.
  Syukur dengan hati, yaitu beritikaf/berdian diri atas tikar Allah dengan senantiasa menjaga hak Allah yang wajib dikerjakan. Dalam hal ini, si penerima nikmat mengakui dari dalam hatinya bahwa semua nikmat itu berasal dari Allah SWT.

5. Sabar
  . Menurut syekh ‘Abd al-Qadir Jailani, sabar ada tiga macam, yaitu:
Bersabar kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Bersabar bersama Allah, yaitu bersabar terhadap ketetapan Allah dan perbuatan-Nya terhadapmu dari berbagai macam kesuliatan dan musibah.
 Bersabar atas Allah, yaitu bersabar terhadap rezeki, jaln keluar, kecukupan, pertolongan, dan pahala yang dijanjikan Allah di kampung akhirat.

6. Ridha
        ‘Abd al-Qadir mengutip ayat al-qur’an tentang perlunya sikap ridha, “dengan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat darinya, keridhaan dan syurga. Mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal”.(At-Taubah: 21).

7. Jujur
        Menurut syekh ‘Abd al-Qadir Jailani, jujur adalah mengatakan yang benar dalam kondisi apapun, baik menguntukan maupun yang tiadak menguntungkan.

Share:

Paper Tarekat Naqsabandiyah

TAREKAT NAQSABANDIYAH

            Tarekat yang diambil dari mana sendirinya,Syekh Bahaudin Naqsabandi dari Bukhara (1390) Tarekat ini tersebar luas di wilayah Asia Tengah,Volga & Kaukasus, China, Indonesia, India, Turki, Eropa & Amerika Utara. Ini adalah satu-satunya tarekat yg silsilah penyampaian ilmunya berakar dari Abu Bakar as-Shidiq. Syeikh Yusuf Makassari (1623-1699) adalah orang pertama yang memperkenalkan tarekat ini di indonesia. Penyebarannya meluas, dari Makasar, Kalimatan, Sumatra, Jawa Tengah/timur.
            Tarekat merupakan sebuah organisasi tasawuf dibawah pimpinan seorang Syeikh yang menerapkan ajarannya kepada para murid-muridnya. Tareqat juga dimaksudkan sebagai suatu jalan yang dilalui oleh calon sufi dalam mencapai ma’rifat. Tidak mudah bagi seorang sufi untuk mencapai titik puncak yang harus dicapai olehnya dalam menjalani kehidupan bertasawuf. Sehingga pilihan lain dari hal ini adalah menjalaninya dengan kehidupan bertareqat.
            Dalam perkembangannya, Tareqat sebagai suatu organisasi keagamaan kaum sufi sudah banyak lahir dengan corak yang berbeda. Ini sudah berkembang pesat dan tersebar ke Asia Tenggara, Asia Tengah, Afrika Timur, Afrika Utara, India, Iran dan Turki. Perbedaan-perbedaan tersebut dalam realitasnya mengarah kepada tujuan yang sama, yaitu berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Karena Tareqat merupakan sebuah Organisasi yang lahir dari seorang Syeikh yang berniat ingin melestarikan ajaran-ajaran kaum sufi maka masing-masing dari syikeh tersebut tentu punya cara tersendiri dalam pengembangannya tersebut. Terbukti dengan lahirnya tarekat tersebut semakin berbeda pulalah metode-metode yang digunakan.
            Ada beberapa faktor yang mempengaruhi mudahnya Tarekat berkembang yaitu :
 a) Sufi mempunyai kegemaran mengembara dari suatu tempat ke tempat yang lain. Dalam setiap            persinggahannya para sufi ini sennatiasa menyampaikan ajaran tareqat yang dianutnya. 
b) Ajaran Tarekat yang mudah dipahami oleh siapa pun dan tidak mensyaratkan bagi calon murid            mempunyai tingkat inteaktual yang tinggi.
            Di Indonesia, Tarekat juga sudah mulai berkembang pada abad ke-13 hijriah. Terbukti pada periode yang sama lahir 3 organisasi tarekat besar yang berkembang yaitu Qadiriyah, Naqsabandiyah dan Sattariyah. Kemudian disusul oleh tarekat Rifai’iah yang mengabadikan beberapa jenis kesenian rakyat aceh.
            Sebagai salah satu Tareqat yang juga sudah berkembang di Indonesia  ialah Tareqat Naqsabandiyah juga sebagai salah satu Tareqat yang paling luas penyebarannya. Maka, dalam pembahasan makalah ini akan di jelaskan hal ihwal tentang Tareqat Naqsabandiyah baik seputar latar belakang, perkembangan dan penyebarannya di dunia dan khususnya di Indonesia serta ajaran-ajarannya.

Pendiri Tarekat Naqsabandiyah.
            Istilah Naqsabandiyah pertama kali diperkenalkan oleh Muhammad bin Muhammad Baha’ al-Din al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi, yang juga sekaligus sebagai pendiri Tarekat Naqsabandiyah. Beliau dilahirkan pada tahun 1318 di desa Qasr-i-Hinduvan (yang kemudian bernama Qasr-i Arifan) di dekat Bukhara, yang juga merupakan tempat di mana ia wafat pada tahun 1389. Sebagian besar masa hidupnya dihabiskan di Bukhara, Uzbekistan serta daerah di dekatnya, Transoxiana. Ini dilakukan untuk menjaga prinsip “melakukan perjalanan di dalam negeri”, yang merupakan salah satu bentuk “laku” seperti yang ditulis oleh Omar Ali-Shah dalam bukunya “Ajaran atau Rahasia dari Tariqat Naqsyabandi”. Perjalanan jauh yang dilakukannya hanya pada waktu ia menjalankan ibadah haji dua kali.
            Dari awal, ia memiliki kaitan erat dengan Khwajagan, yaitu para guru dalam mata rantai Tariqat Naqsyabandi. Sejak masih bayi, ia diadopsi sebagai anak spiritual oleh salah seorang dari mereka, yaitu Baba Muhammad Sammasi. Sammasi merupakan pemandu pertamanya dalam mempelajari ilmu tasawuf. tepatnya ketika ia menginjak usia 18 tahun, dan yang lebih penting lagi adalah hubungannya dengan penerus (khalifah) Sammasi, yaitu Amir Sayyid Kulal al-Bukhari (w. 772/1371). Dari Kulal inilah ia pertama kali belajar terekat yang didirikannya.
            Tarekat Naqsabandiyah adalah satu-satunya tarekat terkenal yang silsilah penyampaian ilmu spritualnya kepada Nabi Muhammad saw. melalui penguasa Muslim pertama yakni  Abu Bakar Shidiq , tidak seperti tarekat-tarekat sufi terkenal lainnya yang asalnya kembali kepada salah satu imam Syi’ah, dan dengan demikian melalui Imam ‘Ali, sampai Nabi Muhammad SAW. Tariqat Naqshbandiyah terbina asas dan rukunnya oleh 5 bintang yang bersinar diatas jalan Rasulullah (s.a.w) ini dan inilah yang merupakan ciri yang unik bagi tariqat ini yang membezakannya daripada tariqat lain. Lima bintang yang bersinar itu ialah Abu Bakr as-Siddiq,Salman Al-Farisi,Bayazid al-Bistami,Abdul Khaliq al-Ghujdawani dan Muhammad Bahauddin Uwaysi a-Bukhari yang lebih dikenali sebagai Shah Naqshband – Imam yang utama didalam tariqat ini.

Perkembangan Tarekat Naqsabandiyah
a.  Gambaran Umum Perkembangan Tarekat Naqsabandiyah
            Dalam perkembangannya Tarekat Naqsabandiyah sudah menyentuh lapisan masyarakat muslim di berbagai wilayah, dengan dampak dan pengaruhnya Tarekat ini pertama kali berdiri di Asia Tengah kemudian meluas ke Turki, Suriah, Afganistan, dan India. Di Asia Tengah bukan hanya di kota-kota penting, melainkan di kampung-kampung kecil pun tarekat ini mempunyai Zawiyah (padepokan sufi)  dan rumah peristirahatan Naqsabandi sebagai tempat berlangsungnya aktivitas keagamaan yang semarak. Disamping itu tarekat ini juga berkembang Bosnia-Herzegovina, dan wilayah Volga Ural.
Pengaruh mereka mungkin paling kuat di Turki dan wilayah Kurdistan, dan yang paling lemah adalah di Pakistan. Pada masa pemerintahan Soviet, pengaruh Naqsyabandiyah sangat terasa pada gerakan “Islam bawah tahan” di Kaukasus Asia Tengah. Namun, pada akhirnya pemerintahan Soviet tidak diikuti perkembangan Naqsyabandiyah di permukaan.

Penyebaran Tarekat Naqsabandiyah dan Tokohnya
            Baha’ al-Din Naqsabandi sebagai pendiri tarekat ini, dalam menjalankan aktivitas dan penyebaran tarekatnya mempunyai khalifah utama, yaitu Ya’qub Carkhi, Ala’ al-Din Aththar dan Muhammad Parsa. Yang paling menonjol dalam perkembangan selanjutnya adalah ’Ubaidillah Ahrar. Ubaidillah terkenal dengan Syeikh yang memilki banyak lahan, kekayaan, dan harta. Ia mempunyai watak yang sederhana dan ramah, tidak suka kesombongan dan keangkuhan. Ia menganggap kesombongan dan keangkuhan merendahkan tingkat moral seseorang dan melemahkan tali pengikat spritual. Ia juga berjasa dalam meletakkan ciri khas tarekat ini yang terkenal dalam menjalin hubungan akrab dengan para penguasa saat itu sehingga ia mendapat dukungan yang luas jangkauannya. Pada tatanan selanjutnya tarekat ini mulai menyebarkan gerakannya diluar Islam.
            Tokoh lain yang berperan besar dalam penyebaran tarekat ini secara geografis adalah Said al-Din Kashghari. Ia juag telah membai’at penyair dan ulama besar ’Abd al-Rahman Jami’ ia yang kemudian mempopulerkan tarekat ini dikalangan istana. Kontribusi utama Jami’ adalah paparannya tentang pemikiran Ibnu ’Arabi dan mengomentari karya-karya Ibnu Arabi, Rumi, Parsa dan sebagainya, sehingga tersusun dalam gubahan syair yang mudah dipahami dari gagasan mereka tersebut.
            Di India, Tarekat ini mulai tersebar pada tahun 1526. Baqi Billah, dilahirkan di Kabul merupakan syeikh yang menyebarkan ajaran Tarekat ini di India. Ia mengembangkan ajaran Tarekat ini kepada orang awam dan kaum bangsawan Mughal. Dakwahnya di India berlangsung selama 5 tahun. Hampir semua garis silsilah pengikut Naqsabandiyah di India mengambil garis spritual mereka melalui Baqi Biillah dan Khalifahnya Ahmad Sirhindi.

 Pelopor dan Penyebaran Tarekat Naqsabandiyah Di Nusantara
            Ajaran Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia pertama kali di perkenalkan oleh Syeikh Yusuf Al-Makassari(1626-1699). Seperti disebutkan dalam bukunya safinah al-Najah ia telah mendapat ijazah dari Syeikh Naqsabandiyah yaitu Muhammad ’Abd al Baqi di Yaman dan mempelajari tarekat ini ketika berada di Madinah dibawah bimbingan Syaikh Ibrahim al-Kurani. Syeikh Yusuf berasal dari Kerajaan Gowa Sulawesi. Pada tahun 1644 ia pergi ke Yaman kemudian diteruskan lagi ke makkah, madinah untuk menuntut ilmu dan naik haji. Karena kondisi politik saat itu, ia mengrungkan niatnya untuk pulang ke tanah kelahirannya di Makassar sehingga membawanya menetap di Jawa Barat Banten hingga ia menikah dengan putri Sultan Banten. Kehadirannya di Banten membawa sumbangan besar dalam mengangkat nama Banten sebagai pusat pendidikan Islam. mIa terkenal sebagai ulama Indonesia pertama yang menulis tentang tarekat ini.
            Syeikh Yusuf telah menulis berbagai risalah mengenai Tasawuf dan menulis surah-surah tentang nasihat kerohanian untuk orang-orang penting. Kebanyakan risalah dan surah-surahnya ditulis dalam bahasa Arab dan Bugis. Didalam tulisan-tulisannya, Syeikh Yusuf tetap konsisten pada pahamWahdatul Wujud dan menekankan akan pentingnya meditasi melalui seorang Syeikh (Tawassul) dan kewajiban sang murid untuk patuh tanpa banyak tanya kepada gurunya. Ia mengemukakan bahwa kepatuhan paripurna kepada syeikh merupakan hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi demi pencapaian spiritual.
           Tarekat Naqsabandiyah menyebar di nusantara berasal dari pusatnya di Makkah, yang dibawa oleh para pelajar Indonesia yang beajar disana dan oleh para jemaah haji Indonesia. Mereka ini kemudian memperluas dan menyebarkan tarekat ini keseluruh pelosok nusantara.

 Ajaran Tarekat Naqsabandiyah

A. Zikir dan Wirid
            Teknik dasar Naqsyabandiyah, seperti kebanyakan tarekat lainnya, adalah dzikir yaitu berulang-ulang menyebut nama Tuhan ataupun menyatakan kalimat la ilaha illallah. Tujuan latihan itu ialah untuk mencapai kesadaran akan Tuhan yang lebih langsung dan permanen. Pertama sekali, Tarekat Naqsyabandiyah membedakan dirinya dengan aliran lain dalam hal dzikir yang lazimnya adalah dzikir diam (khafi, “tersembunyi”, atau qalbi, ” dalam hati”), sebagai lawan dari dzikir keras (dhahri) yang lebih disukai tarekat-tarekat lain. Kedua, jumlah hitungan dzikir yang mesti diamalkan lebih banyak pada Tarekat Naqsyabandiyah daripada kebanyakan tarekat lain.
            Dzikir dapat dilakukan baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri. Banyak penganut Naqsyabandiyah lebih sering melakukan dzikir secara sendiri-sendiri, tetapi mereka yang tinggal dekat seseorang syekh cenderung ikut serta secara teratur dalam pertemuan-pertemuan di mana dilakukan dzikir berjamaah. Di banyak tempat pertemuan semacam itu dilakukan dua kali seminggu, pada malam Jum’at dan malam Selasa; di tempat lain dilaksanakan tengah hari sekali seminggu atau dalam selang waktu yang lebih lama lagi.

Tarekat Naqsabandiyah mempunyai dua macam zikir yaitu:
            Dzikir ism al-dzat, “mengingat yang Haqiqi” dan dzikir tauhid, ” mengingat keesaan”. Yang duluan terdiri dari pengucapan asma Allah berulang-ulang dalam hati, ribuan kali (dihitung dengan tasbih), sambil memusatkan perhatian kepada Tuhan semata.
            Dzikir Tauhid (juga dzikir tahlil atau dzikir nafty wa itsbat) terdiri atas bacaan perlahan disertai dengan pengaturan nafas, kalimat la ilaha illa llah, yang dibayangkan seperti menggambar jalan (garis) melalui tubuh. Bunyi la permulaan digambar dari daerah pusar terus ke hati sampai ke ubun-ubun. Bunyi Ilaha turun ke kanan dan berhenti pada ujung bahu kanan. Di situ, kata berikutnya, illa dimulai dengan turun melewati bidang dada, sampai ke jantung, dan ke arah jantung inilah kata Allah di hujamkan dengan sekuat tenaga. Orang membayangkan jantung itu mendenyutkan nama Allah dan membara, memusnahkan segala kotoran.
            Variasi lain yang diamalkan oleh para pengikut Naqsyabandiyah yang lebih tinggi tingkatannya adalah dzikir latha’if. Dengan dzikir ini, orang memusatkan kesadarannya (dan membayangkan nama Allah itu bergetar dan memancarkan panas) berturut-turut pada tujuh titik halus pada tubuh.

7 Tingkatan zikir ini adalah:
            Mukasyah. Mula-mula zikir dengan nama Allah dalam hati sebanyak 5000 kali sehari semalam. Kemudian melaporkan kepada syeikh untuk di naikkan zikirnya menjadi 6000 kali sehari-semalam. Zikir 5000 dan 6000 itu dinamakan maqam pertama.
            lathifah (jamak latha’if), zikir ini antara 7000 hingga 11.000 kali sehari-semalam. Terbagi kepada tujuh macam yaitu qalb (hati), ruh (jiwa), sirr (nurani terdalam), khafi (kedalaman tersembunyi), akhfa (kedalaman paling tersembunyi), dan nafs nathiqah (akal budi),. Lathifah ketujuh, kull jasad sebetulnya tidak merupakan titik tetapi luasnya meliputi seluruh tubuh. Bila seseorang telah mencapai tingkat dzikir yang sesuai dengan lathifah terakhir ini, seluruh tubuh akan bergetar dalam nama Tuhan. Ternyata latha’if pun persis serupa dengan cakra dalam teori yoga. Memang, titik-titik itu letaknya berbeda pada tubuh, tetapi peranan dalam psikologi dan teknik meditasi seluruhnya sama saja.
Nafi’ Itsbat, pada tahap ini, atas pertimbangan syeikh, diteruskan zikirnya dengan kalimat la ilaha illa Allah. Merupakan maqam ke-tiga
Waqaf Qalbi
Ahadiah
Ma’iah
Tahlil, Setelah samapat pada maqam terakhir ini maka sang murid tersebut akan memperoleh gelar Khalifah, dengan ijazah dan berkewajiban menyebarluaskan ajaran tarekat ini dan boleh. Mendirikan suluk yang dipimpin oleh mursyid.

Ajaran tarekat naqsabandiyah
            Ajaran dasar Tarekat Naqsyabandiyah pada umumnya mengacu kepada empat aspek pokok yaitu: syari’at, thariqat, hakikat dan ma’rifat. Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah ini pada prinsipnya adalah cara-cara atau jalan yang harus dilakukan oleh seseorang yang ingin merasakan nikmatnya dekat dengan Allah. Ajaran yang nampak kepermukaan dan memiliki tata aturan adalah suluk atau khalwat. Suluk ialah mengasingkan diri dari keramaian atau ke tempat yang terpencil, guna melakukan zikir di bawah bimbingan seorang syekh atau khalifahnya selama waktu 10 hari atau 20 hari dan sempurnanya adalah 40 hari. Tata cara bersuluk ditentukan oleh syekh antara lain; tidak boleh makan daging, ini berlaku setelah melewati masa suluk 20 hari. Begitu juga dilarang bergaul dengan suami atau istri; makan dan minumnya diatur sedemikian rupa, kalau mungkin sesedikit mungkin. Waktu dan semua pikirannya sepenuhnya diarahkan untuk berpikir yang telah ditentukan oleh syekh atau khalifah.
            Sebelum suluk ada beberapa tahapan yaitu; Talqin dzikir atau bai’at dzikir, tawajjuh, rabithah, tawassul dan dzikir. Talqin dzikir atau bai’at dzikir dimulai dengan mandi taubat, bertawajjuh dan melakukan rabithah dan tawassul yaitu melakukan kontak (hubungan) dengan guru dengan cara membayangkan wajah guru yang mentalqin (mengajari dzikir) ketika akan memulai dzikir.
            Dzikir ada 5 tingkatan, murid belum boleh pindah tingkat tanpa ada izin dari guru. Kelima tingkat itu adalah (a) dzikir ism al-dzat, (b) dzikr al-lata’if, (c) dzikir naïf wa isbat, (d) dzikir wuquf dan ( e) dzikir muraqabah.
Ajaran Asasnya:
1. Ismu Zat (Allah), Nafi Isbat  (La ilaha Illa Allah)
2. Baz Ghast – kembali kpd Allah  
3. Nigah Dasyat  
– menjaga, mengawasi, memelihara , bersungguh-sungguh. 
4. Yad Dasyat 
– mengingati Allah secara bersungguh
– Zikir memelihara hati dalam setiap nafas 
5. Hosh Dar Dam  
– sadar dalam nafas/berzikir secara sedar dalam nafas/empat ruang nafas,
-2 ruang nafas keluar masuk, dua ruangan antara nafas keluar masuk/zikirnya adalah ALLAH  
6. Nazar Bam Qadar 
– Bila berjalan sentiasa memandang ke arah kakinya, jangan melebihkan pandang , duduk pandang ke hadapan, merendahkan pandangan, jangan toleh kiri dan kanan  
7. Safar dar watan – Bersiar-siar dalam kampong dirinya/ meningkatkan dirinya kpd sifat malaikat:
Taubat, Inabat, Sabar, Syukur, Qana’ah,Wara’,Taqwa,Taslim,Tawakkal, Redha
 
Perjalanan ada dua jenis:
  a) Perjalanan luar: dari satu tempat ke satu tempat mencari pembimbing Rohani
  b) Perjalanan dalam- tinggalkan segala tabiat buruk kepada adab tertib yang baik dan mengeluarkan       segala isi hainya dari keduniaan (Dalam hatinya akan muncul segala apa yang diperlukan olehnya       dalam kehidupan ini dan kehidupan mereka yang berada di sampaingnya) 
8. Khalwat dar Anjuman
Bersendirian dalam keramaian/Khalawt kabir dan jalwat (Apabila sudah mencapai
fana menerusi zikir fikir dan semua dari luaran difanakan, pada waktu itu deria dalam
bebas meneroka ke alam kebesaran dan keagungan kerajaan Allah SWT.) 
9. Wukuf Qalbi 
– Tumpuan hati dan hati pula tumpu pada Allah  
10. Wuquf Abadi  
– memerhatikan bilangan ganjil dalam zikir naïf  isbat 
11. Wuquf zamani 
– Selepas solat lakukan beberapa minit sentiasa memerhatikan hati bertawajjuh kepada Allah swt
– Selang beberapa jam/setiap jam semak semula kedaan hati , mempastikan hati sentiasa ingat kepada Allah
Share:

Translate

Muhammad Maulana & Rifqi Fuadi. Powered by Blogger.