Selamat Datang Rakan dan Semoga Bermanfaat.

Showing posts with label Pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label Pengetahuan. Show all posts

Tuesday, September 13, 2016

Hukum-hukum Rukhshah

Salam sejahtera rakan...
Kita mungkin sering mendengar kata rukhshah dikalangan orang-orang berilmu, namun terkadang kita kurang paham dengan definisi dari rukhshah.
Rakan, mari kita pahami apa itu rukhshah dan jika ditinjau dari hukum syariat terbagi kepada berapa rukhshah ?
1. Definisi Rukhshah
Pada dasarnya, rukhshah adalah sebuah kindifikasi hukum yang diberikan syariat bagi mukallaf yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan taklif yang dibebankan kepadanya. Dengan kata lain rukhshah adalah sebuah formulasi hukum yang telah berubah dari bentuk asalnya, karna mempertimbangkan obyek hukum, situasi, kondisi, dan tempat tertentu. Bisa pula dimaknai sebagai diperbolehkannya sesuatu yang asalnya dilarang, beserta wujudnya dalil yang melarang.
Sebaliknya, jika formulasi hukum syariat tidak mengalami perubahan, maka ia dinamakan 'azimah. Atau dapat dikatakan, 'Azimah adalah suatu formulasi hukum-hukum dasar syariat yang bersifat umum dan tidak terbatas pada obyek, situasi, kondisi, dan orang tertentu. Atau lebih mudahnya , 'Azimah adalah sebentuk kerangka hukum dasar
Share:

Monday, August 29, 2016

Definisi Isim, Fi'il dan Huruf

Salam sejahtera rakan...
Khususnya bagi rakan nahwu lover, sekarang kita mencoba membahas tentang definisi isim, fi'il dan huruf dalam pengertian yang sebenarnya.
Isim, fi'il dan huruf memang 3 kalimat yang paling inti dalam susunan bahasa arab, oleh karena itu, tentu akan sangat membantu bagi rakan yang mencoba menyelami dalamnya lautan nahwu jika 3 kalimat tersebut sudah benar-benar dipahami. Mari kita tujukan sejenak pikiran kita kepada pembahasan.
Rakan, secara sederhana mungkin kita bisa mengatakan bahwa isim adalah kata benda, fi'il adalah kata kerja, huruf adalah selain dari kata benda dan kata kerja, namun perkataan semacam itu belumlah mencakup keseluruhan dari setiap afrad dari masing-masing isim, fi'il dan huruf. Namun tidak ada salahnya juga jika perkataan semacam itu kita tujukan kepada pemula dalam ilmu nahwu hanya sebagai jembatan untuk menyebrangi pemahaman yang sebenarnya dan hal tersebut bisa membuat mereka tidak langsung merasa kesulitan dalam memahami materi.
> Definisi Isim
كلمة دلت علي معني في نفسها و لم تقترن بأحد الازمنة الثلاثة
Satu kalimat yang menunjuki atas ma'na yang ada pada dirinya dan tidak menyertai dengan salah satu dari zaman yang tiga ( madhi, hal, mustaqbal / waktu yang lalu, yang sedang terjadi, yang akan datang )
Contoh ; زيد = zaid
Zaid adalah isim, karna zaid tersebut adalah satu kalimat yang ma'nanya ada pada diri kalimat itu sendiri dan tidak ada kaitannya dengan zaman ( waktu ), baik waktu yang lalu, sedang terjadi maupun waktu yang akan datang. Maka setiap kalimat yang seperti itu dinamakan dengan isim.
> Definisi Fi'il
كلمة دلت علي معني في نفسها واقترنت  بأحد الازمنة الثلاثة
Satu kalimat yang menunjuki atas ma'na yang ada pada dirinya dan menyertai dengan salah satu dari zaman yang tiga ( madhi, hal, mustaqbal / waktu yang lalu, yang sedang terjadi, yang akan datang )
Contoh : ضرب - يضرب
Dharaba adalah fi'il madhi karena ia adalah sebuah kalimat yang maknanya ditunjuki oleh diri kalimat tersebut dan menyertai dengan salah satu zaman yang 3 yaitu zaman madhi ( waktu yang telah lalu )
Maka dharaba bermakna " telah memukul "
Begitu juga dengan Yadhribu, yadhribu adalah fi'il mudhari', karena ia adalah sebuah kalimat yang maknanya ditunjuki oleh diri kalimat tersebut dan menyertai dengan salah satu zaman yang 3 yaitu zaman hal / mystaqbal ) waktu yang sedang terjadi / akan datang )
Maka Yadhribu bermakna " sedang memukul / akan memukul "
> Definisi Huruf
كلمة دلت علي معني في غيرها
Satu kalimat yang menunjuki atas ma'na pada kalimat yang lain.
Huruf jika hanya berdiri sendiri tidak akan menghasilkan ma'na, ia hanya akan menghasilkan ma'na apabila disandingkan dengan kalimat lain.
Contoh ; في ( huruf jar )
Ia akan menghasilkan ma'na saat disandingkan dengan kalimat lain dalam sebuah kalam, misalnya ;
زيد في الدار
"Zaid berada di dalam rumah "
Huruf في didalam kalam diatas bermakna dharfiyah (dalam ), jika huruf " fi " tersebut tidak bersanding dengan kalimat lain maka makna dharfiyah dan maknanya yang lain tidak akan muncul.
WallahuA'lam...
Terimakasih rakan..
Share:

Sunday, August 28, 2016

Kulliat Khamsah

Salam sejahtera rakan..
Pernahkah rakan mendengar ilmu mantiq ?
Ilmu mantiq adalah satu ilmu pengetahuan yang dapat digolongkan kedalam ilmu logika, faedah mempelajari ilmu mantiq adalah untuk menjaga pikiran agar tidak salah dalam memahami perkataan.
Salah satu bahasan yang penting dalam ilmu mantiq adalah tentang kulliat khamsah (kulliyah yang lima) yang meliputi ; jins, fashal, nau;, aradh ‘am dan aradh khash. Pada dasarnya pembahasan ilmu mantiq hanya dua ; tashaur dan tashdiq. Jalan untuk menghasilkan tashaur adalah ta’rif sedangkan jalan untuk menghasilkan tashdiq adalah qiyas/hujjah. kulliyah khamsah masuk dalam pembahasan ilmu mantiq karena kulliyah khamsah berupakan bagian-bagian pada ta’rif, maka untuk memahami ta’rif haruslah terlebih dahulu mengenal kulliyah khamsah. Berikut ini uraian singkat tentang kulliyah khamsah.
1. JINS
Dalam kitab Isaghuji karangan Syaikhul islam Abi Zakariya Al-Anshari di katakan jins / jinsun adalah lafaz kully yang bisa difahami kepada afradnya yang banyak lagi yang berbeda pada hakikat di antara afrad-afrad tersebut. Contohnya seperti lafaz “ hayawan “, dari lafaz tersebut bisa kita fahami kepada afrad hayawan yang sangat banyak namun berbeda pada hakikat di antara afrad-afrad hayawan tersebut, karena dari lafaz “hayawan “ bisa kita fahami kepada lembu, ayam, kerbau, manusia dan lain-lain, maksudnya semua ini masuk dalam kata-kata “ hayawan “.
Ta’rif hayawan adalah Al-Mutaharrik Bi Al-Iradah (sesuatu yang bergerak – gerak dengan ada kemauan ), berarti semua makhluk hidup yang ada didunia ini yang bergerak-gerak dengan ada kemauan itulah hayawan.
Kemudian dalam kitab “ Shabban Al-Malawy “ dikatakan bahwa “ JINS “ terbagi kepada 3 :
Jins Qarib
Jins Mutawassith
Jins Ba’id
1. Jins Qarib ( dinamakan juga dengan jins Safil )
Adalah lafaz kully yang tidak ada lagi jins dibawahnya, namun di atasnya ada jins seperti lafaz hayawan maka dibawah lafaz hayawan tidak ada jins lagi yang ada hanya Nau’ seperti insan, faras, dan lain-lain, tapi diatasnya ada jins seperti jism.
2. Jins Mutawassith
Adalah lafaz kully yang dibawahnya ada jins dan diatasnya juga ada jins seperti lafaz jism maka dibawahnya ada jins seperti hayawan.
3. Jins Ba’id ( dinamakan juga dengan jins ‘Ali )
Adalah lafaz kully yang diatasnya tidak ada lagi jins tetapi dibawahnya ada jins seperti lafaz jauhar, maka diatasnya tidak ada lagi jins tapi dibawahnya ada jins seperti hayawan dan jism.
Perlu juga diketahui dalam kitab ini tidak dibahas tentang jins “ Munfarid “ karena tidak ada contoh yang pasti namun sebagian Ulama Manthiq memberikan contoh seperti Akal. Dalam kitab Bajuri Sullam Mantiq karangan Syaikh Ibrahim Bajuri dikatakan bahwa jins ba’id terbagi lagi kepada jins ba’id satu martabat dan jins ba’id dua martabat, contoh jins ba’id satu martabat adalah jism dan contoh jins ba’id dua martabat jauhar.
Perlu diketahui dalam kitab Isaghuji jins dibagi kepada 4 :
Jins Qarib
Jins Mutawassith
Jins Ba’id
Jins Munfarid
2. FASHAL
Fasal adalah Juzuk mahiyah yang terbenar hanya pada satu mahiyah pada jawaban Ayyu syaik huwa ( Shabban Malawy ) seperti Natiq, maka natiq merupakan juzuk dari pada insan ( dari pengertian insan ) dan merupakan jawaban pada pertanyaan “ Ayyu syaik huwa insan “, jawabannya “ natiq “.
Dalam kitab Shabban Malawy juga disebutkan bahwa fasal terbagi 2 :
Fashal Qarib
Fashal Ba’id
1. Fasal Qarib
Adalah fasal yang membedakan sesuatu dalam ruang lingkup jinsnya yang qarib seperti natiq maka natiq adalah fasal qarib yang membedakan insan dengan faras yang mana insan dan faras berada dalam ruang linkup kata-kata hayawan ( jins qarib ).
2. Fasal Ba’id
Adalah fasal yang membedakan sesuatu dalam ruang lingkup jinsnya yang ba’id seperti hisas maka hisas adalah rasa yang membedakan insan dengan bebatuan atau dengan pepohonan yang mana insan, bebatuan, pepohonan berada ruang lingkup jism ( jins ba’id ).
3. NAU’ ( NAU’UN )
Dalam kitab Shabban Malawy dikatakan bahwa Nau’ adalah lafaz kully yang bisa difahami kepada banyak afradnya dan diantara afrad-afradnya tidak berbeda pada hakikat, seperti lafaz insan maka dari lafaz insan bisa kita fahami kepada banyak afradnya misalnya si zaid, umar, ali dan lain-lain dan diantara afrad tersebut sama pada hakikatnya yaitu hayawan natiq.
Perlu diketahui bahwa Nau’ idhafi terbagi kepada 3 :
Nau’ idhafi ‘Ali
Nau’ idhafi Mutawassith
Nau’ idhafi Safil
1. Nau’ idhafi ‘Ali
Adalah Nau’ yang diatasnya tidak Nau’ dan dibawahnya segala Nau’ seperti jism.
2. Nau’ idhafi Mutawassith
Adalah Nau’ yang dibawahnya ada Nau’ begitupun diatasnya seperti hayawan.
3. Nau’ idhafi Safil
Adalah Nau’ yang dibawahnya tidak ada Nau’ dan diatasnya segala Nau’ seperti insan.
4. ‘ARADH ‘AM ( SIFAT YANG UMUM )
Adalah lafaz kully yang keluar dari mahiyah serta terbenar kepada mahiyah yang lain seperti lafaz “ masyi “ maka lafaz ini keluar dari mahiyah insan, maksudnya keluar dari definisi insan serta kata-kata masyi terbenar pada insan dan juga terbenar pada mahiyah lain seperti faras.
5. ‘ARADH KHAS ( SIFAT YANG KHUSUS )
Adalah lafaz kully yang keluar dari mahiyah serta hanya terbenar pada satu mahiyah seperti lafaz dhahik, maka dhahik keluar dari mahiyah insan , dalam arti keluar dari definisi insan serta dhahik hanya terbenar kepada insan dan tidak ada mahiyah lain yang dhahik.
Perlu diketahui bahwa dalam kitab isaghuji sebagian Ulama mantiq menolak kalau lafaz dhahik adalah ‘aradh khas bagi insan, karena jin dan malaikat juga dhahik namun permasalahan tersebut langsung dijawab dengan pendapat yang tahqiq disisi hukama’ bahwa para jin dan malaikat tidak dhahik, kalau dikatakan ada warid dalam hadits tentang jin dan malaikat yang dhahik itu maksudnya ta’ajjub bukan hakikat tetapi itu adalah majaz yang ‘alakahnya adalah itlak musabbab pada sabab.
Disamping itu juga dalam kitab Isaghuji dikatakan bahwa ‘aradh khas terbagi kepada 2 :
‘Aradh khas hakikat ( Mutlaqah )
‘Aradh khas izafiyah ( Ghairu Muthlaqah )
1. ‘Aradh khas hakikat
Adalah ‘aradh khas yang tidak dikaitkan dengan sesuatu ketiadaan sesuatu, contohnya dhahik yang dinisbahkan bagi insan.
2. ‘Aradh khas idhafiyah
Adalah ‘aradh khas yang dinisbahkan kepada sesuatu tanpa sesuatu, contohnya “ masyi “ yang dinisbahkan kepada insan dengan mengiktibarkan insan itu yang muqabil bagi ketinggalan anwa’ hayawan seperti faras.
Pembagian kulli 5
Pembagian kulli 5 dari sisi termasuk dalam mahiyah atau tidak itu terbagi 2 :
1. Kully Zati
Kully zati adalah kulli yang termasuk dalam juzuk mahiyah seperti jins dan fashal.
2. Kully ‘Arizi
Kully ‘arizi adalah kully yang keluar dari juzuk mahiyah seperti ‘aradh ‘am dan ‘aradh khas.
Perlu diketahui bahwa dalam kitab Isaghuji dikatakan Nau’ bisa termasuk dalam kully zati atau bisa termasuk dalam kully ‘arizi ataupun tidak termasuk dalam kully ‘arizi dan tidak termasuk dalam kulli zati.
Pendapat yang mengatakan Nau’ termasuk dalam kully zati didefinisikan kully zati dengan kully yang bukan ‘arizi.
Pendapat yang mengatakan Nau’ termasuk dalam kully ‘arizi didefinisikan kully ‘arizi dengan kully yang dakhil.
Pendapat yang mengatakan Nau’ tidak termasuk dalam kully zati dan ‘arizi didefinisikan kully zati dengan kully yang dakhil dan didefinisikan kully ‘arizi dengan kully yang kharij.
Pembagian kulli ‘arizi :
Dalam kitab Isaghuji dikatakan bahwa kulli ‘arizi terbagi kepada 2 :
‘Aradh Lazimah
‘Aradh Mufariqah
1. ‘Aradh Lazimah
Adalah kully ‘arizi yang tidak pernah terlepas dari mahiyah seperti dhahk bil quwwah ( berpotensi dhak ) yang dinisbahkan kepada insan, zahik bilquwwah tidak pernah terlepas dari insan maksudnya kapan saja insan selalu bersifat dengan zahik walau tidak secara aktual ( bil fikli ) tapi yang pasti bisa kemungkinan/berpotensi zahik karena yang dimaksud dengan kata-kata bilquwwah adalah mugkin terjadi.
2. ‘Aradh Mufariqah
Adalah kully ‘Arizi yang bisa terlepas dari mahiyah seperti zahik bilfikli yang dinisbahkan kepada insan, zahik bilfikli bisa terlepas dari mahiyah insan, maksudnya tidak setiap waktu insan zahik ( zahik tidak terjadi setiap waktu ) seperti insan dalam keadaan tidur.
Tiap-tiap dari dua ‘araz tersebut baik lzimah atau mufariqah itu adakala terkhusus dengan mahiyah yang satu atau tidak, yag terkhusus dengan mahiyah yang satu itulah na manya ‘araz khas dan yang tidak terkhusus dengan mahiyah yang satu itulah namanya ‘araz ‘am, ini adalah pendapat Ulama Mutaakkhirin Mantiq, sedangkan Ulama Mutaqaddimin Mantiq berpendapat ‘aradh khas hanya ada lazimah tidak ada mufariqah.
Wallahua'lam..
Referensi ; Website/Fanpage Pesantren Mudi Mesra Samalanga Bireun Aceh.
Share:

Penemu Catur Versi Sejarawan Islam

Salam sejahtera rakan...
Catur adalah satu permainan yang cukup unik dan sangat membantu untuk melatih logika, walau kadang-kadang juga dapat menghabiskan terlalu banyak waktu bagi para pecintanya.. Hehee
Tahukah rakan siapa penemu permainan unik itu ?
Ibnu Khalikan menyebutkan bahwa Catur berasal dari India, dan penemunya bernama Sisah Ibnu Dahir.
Konon permainan baru yang mengasyikan hasil karya Sisah Ibnu Dahir itu dikagumi oleh Sang Raja yakni Raja Syihram. Demi mengetahui bahwa Sisah itu adalah seorang rakyatnya, maka Raja berniat memberi hadiah pada penemu Catur itu
Maka ia pun menyuruh Punggawa kerajaan untuk memanggil Sisah ke Istananya.
"Aku ingin memberikan hadiah yang berharga atas penemuanmu yang mengagumkan itu,"
titah Raja Syirham ketika Sisah datang menghadap.
"Aku cukup kaya dan sanggup memenuhi segala keinginanmu itu Sisah" lanjutnya
Sisah diam saja
lalu Raja Bersabda
"Jangan malu, katakan keinginanmu, pasti kukabulkan."
" Maafkan Hamba, ya Raja kami yang Agung dan Pemurah, hamba mohon waktu sehari untuk memikirkannya, jika Tuanku berkenan mengizinkan permohonan hamba ini" Jawab Sisah kemudian.
Mendengar permohonan Sisah , maka raja pun mengizinkannya.
Malam harinya, Guru yang sederhana itu memikirkan hadiah yang hendak dimintanya, hingga
keeseokan harinya dihadapan Sang Raja, berkatalah Sisah, "Ya Tuanku, Hamba telah merenungkan berbagai hadiah yang menyenangkan, akhirnya inilah hadiah yang hamba pilih
Hamba mohon hadiah Sebutir Gandum untuk Kotak pertama papan Catur, Dua butir Gandum untuk petak kedua......"
" Dua butir Gandum katamu,"? bertanya Raja keheranan.
" Ya, Tuanku, Dua butir gandum untuk kotak kedua, selanjutnya, hamba mohon Empat butir untuk kotak ketiga, Delapan butir untuk kotak ke empat, Enam belas butir untuk kotak Kelima, Tiga puluh dua butir untuk Kotak ke Enam, Enam puluh empat butir untuk ........,"
"Cukup, cukup," Sela Baginda Syihram dengan tidak sabar, ketika mendengar permintaan sederhana itu.
"Kau akan menerima hadiahmu untuk Ke Enam puluh Empat Kotak papan Catur itu. Tiap kotak berisi dua kali isi kotak sebelumnya, tetapi ketahuilah bahwa permintaanmu itu sungguh merendahkan kemurahan hatiku, apalgi engkau seorang Guru, pulanglah, punggawaku akan segera mengantarkan gandum permintaanmu itu," Kata Sang Raja kemudian.
"Mohon ampun atas kelancangan saya, ya Tuanku, hamba mohon diri," Penemu Catur itu keluar istana dengan senyum terkulum.
Malam harinya saat bersantap malam, Baginda teringat akan permintaan Sisah, lalu bertanya apakah Gandum untuk Sisah sudah dikirimkan ke rumahnya. Ketika didengarnya bahwa Gandum belum dikirimkan, baginda mengernyitkan dahi keheranan, belum pernah perintahnya dijalankan selambat itu.
Kemudian Baginda menanyakan sekali lagi apakah Perintahnya sudah dijalankan apa belum.
" Tuanku, " sahut seorang pegawai Istana
" Juru Hitung Kerajaan belum selesai menghitung jumlah butir Gandum yang harus dihadiahkan."
"Bodoh, mengapa lambat benar dia menghitung, sebelum ayam berkokok besok pagi, Sisah harus sudah menerima gandumnya
jika tidak, maka kalian semua akan ku pecat."
Sabda sang Raja dengan marah.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali
Seorang pegawai istana melapor kepada Sang Raja bahwa Juru Hitung mohon menghadap.
"Sebelum engkau bicara, katakan apakah perintahku sudah kemarin sudah terlaksana? " tanya Sang Raja
" Justru itulah yang hendak hamba sampaikan, Tuanku, setelah hamba menghitungnya dengan teliti permintaan Guru Sisah itu, ternyata jumlahnya luar biasa besar Tuanku."
Raja Syihram, mulai hilang kesabarannya, sabdanya dengan sangat keras
"Berapapun besarnya, janji Raja harus ditepati, Lumbung Kerajaan cukup besar untuk memenuhi permintaan Sisah yaang sekecil itu."
" Ampun Tuanku, Kerajaan Tuanku tidak akan mampu memenuhi permintaan Sisah itu. Seluruh persediaan gandum di negeri ini, bahkan diseluruh dunia sekalipun, tidak cukup untuk memenuhi permintaannya, Kalau seandainya seluruh permukaan bumi ini ditanami gandum, setelah lautan dikeringkan untuk ditanami gandum, barulah mungkin Tuanku dapat memenuhi permintaan Sisah.
Untuk menampung gandum sebanyak itu, Tuanku akan memerlukan Lumbung yang tingginya Delapan Hasta, Lebarnya Sepuluh Hasta dan panjangnya sama dengan jarak Bumi ke Matahari.
Baginda tertegun mendengar kalimat juru hitungnya itu, namun ia ingin mengetahui juga Angkanya. Raja kemudian bertanya," Berapa butir semuanya?"
Juru hitung kemudian menunjukan angka yang sudah di catatnya, disana tertulis angka 18.446.744.073.709.551.615.
Itulah jumlah Butir Gandum yang harus di berikan kepada Sisah sebagai Hadiah
Itulah Cerita tentang Papan Catur dan Butir gandum itu, Entah bagaimana akhir dari ceritanya, ada yang mengatakan bahwa sang Guru mengalami nasib yang menyedihkan karena ia mati ditiang gantungan. Yang pasti Raja Syihram tak sanggup memenuhi permintaan Sisah Ibnu Dahir itu.
Dikalangan Ahli matematika, mereka tidak berhenti menghitung hanya sampai kotak ke Enam puluh empat saja, tetapi para pecinta matematika juga berusaha menghitung, berapa kapal yang akan mengangkut Gandumitu, berapa berat gandum itu, berapa karung yang harus dibuat untuk wadah gandum itu
berapa harga seluruhnya.
Diantara mereka juga terdengar pendapat.
Share:

Apa Itu Tauhid ?

Salam sejahtera rakan..
Sekarang kita mencoba memahami definisi dari tauhid dengan mengutip perkataan ulama dalam karya ilmiah Mereka Rahimahumullah.
Apa yang dikatakan dengan tauhid ?
Tauhid menurut bahasa ; mengetahui bahwa sesuatu itu satu Sedangkan menurut Syara' adalah Mengesakan yang disembah dengan cara ibadah beserta mengi'tikadkan EsaNya dan membenarkan dgn hati keEsaanNya baik pada Zat, pada Sifat maupun pada Perbuatan.
Maka, tidak ada disana satu zatpun yang menyerupai Zat Allah Ta'ala, dan Zat Allah Ta'ala itu tidak menerima bagi (tidak terbagi-bagi) baik secara nyata, waham, maupun secara takdir ( mengira-ngira),
Dan Sifat Allah Ta'ala tidak menyerupai segala sifat, dan juga tidak berbilang-bilang pada SifatNya dari satu jenis, sebagai contoh ; misalnya bagi Allah Ta'ala memiliki dua sifat qudrah.
Dan tidak masuk isytirak ( perkongsian ) pada perbuatanNya karna tak ada satupun perbuatan selain Perbuatan Allah Subhanahu wa Ta'ala yg dpat menciptakan walaupun di nisbatkan kepada perbuatan selain PerbuatanNya itu usaha.
و شرعا افراد المعبود بالعبادة مع اعتقاد وحدته وتصديقها ذاتا وصفاتا وافعالا
فليس هناك ذات تشبه ذاته تعالي ولا تقبل ذاته الانقسام لا فعلا ولا وهما ولا فرضا
ولا تشبه صفاته الصفات ولا تعدد فيها من جنس واحد بان يكون له تعالي قدرتان متلا ولا يدخل افعاله الاشتراك اذ لا فعل لغيره سبحانه خلقا و ان نسب الي غيره كسبا
Wallahua'lam
Referensi ; Sebuah kitab syarahan terhadap kitab Jauharatut Tauhid.
Share:

Ilmu nahwu bab kalam

Salam sejahtera rakan...
Mungkin diantara rakan ada yang gemar mempelajari ilmu nahwu, memang ilmu nahwu adalah termasuk ilmu terpenting untuk bisa memahami karya-karya ilmiah para 'alim ulama. Memang tak dapat dipungkiri perkataan seorang alim yang mengatakan ;
النحو أب العلم
"Nahwu adalah bapak bagi segala ilmu (syariat )"
Sekarang kita akan mencoba membahas dengan mudah pembahasan yang pertama yang merupakan dasar terpenting bagi pecinta nahwu untuk menyelami luasnya samudra ilmu nahwu. Pembahasan tersebut adalah tentang apa yang dikatakan dengan "Kalam" , tentang pembahagian "kalimat", dan bagaimana caranya kalimat itu diketahui apakah isim, fi'il atau huruf ?
1. Apa yang dikatakan dengan kalam ?
Kalam adalah lafal yang tersusun yang memiliki faedah dengan ada qasad ( dari yang mengucapkannya ).
Oleh karena susunan kalam tidak terlepas dari kalimat, maka para ulama nahwu membagi kalimat menjadi 3 pembahagian ; isim, fi'il, dan huruf.
Nah, sekarang bagaimana kita bisa membedakan antara isim, fi'il, dan huruf, ternyata sangat mudah untuk membedakannya. Simak baik-baik uraian di bawah ini.
2. Tanda Isim, Fi'il, dan Huruf
a. Isim dapat dikenal dengan khafadh (berbaris bawah), tanwin (baris dua), masuk alif lam pada permulaannya, dan masuk huruf jar padanya.
b. Fi'il dapat dikenal dengan masuk atau sah untuk dimasuki huruf قد , س, سوف dan ta' ta'nist yang sukun.
c. Adapun huruf dapat dikenal dengan tidak ada padanya tanda-tanda isim maupun huruf.
Wallahua'lam..
Referensi ; kitab Ajurumiyah dengan sedikit pengurangan dan tambahan.
Share:

Saturday, August 27, 2016

MUJTAHID

Salam Sejahtera Rakan...


Pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita sebagai kaum muslimin mendengar kata "Mujtahid". walau terkadang kata tersebut kurang kita pahami.
Rakan, mari kita luangkan waktu sejenak untuk memahami Arti / Definisi dari kata Mujtahid. Mudah-mudahan bisa menyingkap tabir penasaran kita selama ini tentang ma'na dari kata tersebut.
Mujtahid terbagi menjadi 3 tingkatan ;
1. Mujtahid Muthlak
2. Mujtahid Mazhab
3. Mujtahid Fatwa
Nah, mari kita simak definisi dari setiap ketiga tingkatan mujtahid tersebut.

1. Mujtahid Muthlak
Seseorang yang mampu mengeluarkan hukum-hukum langsung dari dalil-dalil ( seperti Al-Qur'an & Hadits )

2. Mujtahid Mazhab
Seseorang yang mampu mengeluarkan hukum-hukum dari qawaid ( undang-undang ) yang telah dicetuskan oleh Imamnya ( Mujtahid Muthlak ). tergolong kedalam mujtahid mazhab dalam mazhab syafi'i yaitu Imam Muzani dan Imam Buwaithi Rahimahumullah.

3. Mujtahid Fatwa
Seseorang yang mampu menguatkan bagi sebahagian pendapat-pendapat Imamnya atas sebahagian pendapat yang lain. Yang tergolong kedalam Mujtahid Fatwa dalam Mazhab Syafi'i adalah Imam Nawawi dan Imam Rafi'i Rahimahumullah.
Adapun dua ulama besar dalam mazhab syafi'i yang diakui dunia tentang kehebatan ilmu keduanya masih belum mencapai 3 tingkatan
Mujtahid diatas, Beliau adalah Imam Ibnu Hajar Al Haitami pengarang kitab Tuhfatul Muhtaj yang dicetak 10 Jilid tebal itu, Dan Imam Ramli pengarang kitab Nihayatul Muhtaj yang dicetak 8 jilid tebal itu.
Namun keduanya masih digolongkan kedalam Muqallid.
Wallahua'lam, semoga bermanfaat bagi rakan semua.




Referensi : Kitab Hasyiah Syarqawi jilid 1 Halaman 11.

Share:

Saturday, August 13, 2016

Takluknya Konstatinopel di Tangan Al-Fatih

Salam Sejahtera Rakan...

pebrinurhayati.blogspot.com

    Muhammad Al-Fatih (penakluk) begitulah namanya, atau disebut Sultan Mehmed II, lahir 30 Maret 1432 di Edirne kota sebelah barat Turki dan meninggal dunia 3 Mei 1481 di Hunkarcayiri dekat Gebze pada usia 49 tahun. Pada usia 8 tahun ia sudah menghafal Al-Quran. Sultan Murad II ayahnya sudah mengajarkan ilmu agama kepadanya dan juga meminta syeikh Aaq Syamsudin Al-Wali (keturunan Abu Bakar r.a) untuk mengajarkan disiplin ilmu kepada Al-Fatih. Ketika kecil, setiap pagi Fatih diajak untuk melihat tembok benteng Konstatinopel yang begitu kokoh setinggi 18 meter dari kejauhan. Untuk memasuki benteng tersebut sangat sulit karena benteng itu memiliki 3 lapis benteng yang mengelilingi Konstatinopel. 

yayasancbi.blogspot.com
     Kanan dan Kiri kota itu dikelilingi laut dan bagian lain berdiri benteng kokoh. Pada lapisan pertama ada pembatas sungai yang isinya buaya-buaya ganas, pada lapisan kedua terdiri dari ribuan pasukan pemanah yang siap memanah bila ada penyusup. Dan begitu pun tembok kokoh lain. selama berabad-abad Konstatinopel tidak bisa ditaklukkan oleh siapapun.


www.kaskus.co.id
      Suatu hari syeikh berkata kepada Fatih,"wahai Muhammad Al-fatih, kamu tahu apa itu? itu tembok konstatinopel dan tahukah engkau bagaimana janji rasulullah? janjinya adalah kota konstatinopel akan jatuh ke tangan islam, pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan di bawah komandonya adalah sebaik-baiknya pasukan. Saya yakin kelak cucu-cucumu akan menaklukan Konstatinopel. Tapi saya lebih senang jika kau yang menaklukkannya, nak"

      Fatih pun menjawab."iya! Saya ingin menaklukan Konstatinopel dan karena saya ingin menaklukkannya, maka saya akan memantaskan diri".

      Menjadi sebaik-baiknya pemimpin bukanlah orang biasa maka ia tidak pernah meninggalkan shalat rawatib, tidak pernah meninggalkan shalat tahajjud, ia juga mahir berkuda, mahir 7 bahasa : arab, yunani, serbia, persi, turki, dan ibrani, dan juga beberapa keterampilan lain. 

    Sebagaimana yang tertera dalam hadis :
"kota Konstatinopel akan jatuh ke tangan islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan dibawah komandonya adalah sebaik-baiknya pasukan (H.R. Ahmad bin Hambal, Al-Musnad 4/335)" 
      Hadis tersebut bermula dari pertanyaan sahabat Nabi yang sedang menggali parit saat perang Khandaq saat ditanya kota mana yang ditaklukkan terlebih dahulu Konstatinopel atau Roma, Rasulullah menjawab "kota yang dipimpin Heraclius (roma)". Sebagai pemimpin rasul membuat visi jangka panjang dalam hadist diatas.

catatansat.blogspot.com
    Strategi dalam membebaskan konstatinopel, awalnya Fatih menggunakan strategi perang biasa, yaitu membobol benteng dan menerobos lewat laut. beliau juga menggunakan senjata sangat besar yaitu meriam besar dan terkuat pada saat itu. ada 70 kapal dan 20 gallery lengkap dengan persenjataan yang menerobos ke Selat Golden Horn, namun cara itu belum mampu untuk mengalahkan benteng terkokoh didunia saat itu.

    Setelah berbagai macam cara dilakukannya, ia pun mengusulkan agar memindahkan kapal melewati perbukitan Galata, untuk memasuki titik kelemahan konstatinopel yaitu selat Golden Horn,lalu Fatih berkata "kalau begitu tarik kapalnya melalui darat, dan kita akan mendaki bukit, karena orang konstatinopel tidak akan berpikir kalau pasukan muslimin melewati bukit". beberapa pasukan berkata."bagaimana kita dapat melewati bukit? Jalanan begitu sulit untuk dilalui".
     
dailyscribbling.com
     
Fatih menjawab."Konstatinopel akan jatuh di tangan islam, pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan dibwah komandonya adalah sebaik-baiknya pasukan, Lakukanlah!"

     "tapi sepertinya tidak mungkin" saut pasukan

      "lakukan!" tegas sultan Al-Fatih

      Ide yang terdengar seperti lelucon itu dilaksakan oleh pasukannya dalam satu malam, seolah-olah kapal berlayar mengarungi perbukitan. Dan akhirnya, dini hari menjelang pagi, saat penjaga konstatinopel bersiaga kembali, mereka terkejut dengan suara gemuruh kapal Fatih yang berhasil turun dari bukit menuju benteng konstatinopel. Sebelum melakukan penyerangan hari itu Sultan Al-Fatih memrintahkan pasukannya untuk berpuasa, melaksanakan shalat tahajjud pada malam hari dan meminta pertolongan Allah SWT.

indonesiaindonesia.com
    Hari demi hari dijalani, peperangan berlangsung hingga akhirnya kaum muslimin memperoleh kemenangan dan menaklukan Konstatinopel. sebelum waktu ashar tiba Sultan Al-Fatih telah menginjakkan kakinya di benteng Konstatinopel. Para pasukan berteriak, menyebut dan memuji Nama Allah saling sahut-menyahut. Langsung Al-Fatih bersujud menghadap ka'bah dengan membawa senggemgam tanah sambil berkata." saya tidak lebih mulia dari tanah ini, saya akan kembali ke tanah ini juga".

   Al-Fatih menaklukkan Konstatinopel pada usia kira-kira 21 tahun dan mewujudkan janji Rasulullah. setelah berhasil menaklukkan Konstatinopel beliau juga berencana menaklukkan Roma. 19 tahun kemudian, saat mewujudkan keinginan menaklukkan roma, sentak para penguasa Roma ketakutan. Dan sebelum misi tersebut dilaksanakan beliau meninggal dalam perjalanan menuju Roma.



Sumber Referensi :
kamilpascasarjanaitb.wordpress.com
id.wikipedia.org
      
  
Share:

Friday, August 12, 2016

Hubungan Aceh-Turki Utsmani

Salam Sejahtera Rakan...

     Hubungan aceh dengan turki sangatlah erat. Dalam beberapa sumber yang baik seperti hikayat-hikayat aceh, menjelaskan bahwa Kerajaan Turki Utsmani dahulu pernah membantu kerajaan Aceh dalam bentuk armada perang. Atas permohonan yang dikirim oleh Sultan Alaidin Riayat Shah kepada Sultan Sulayman Al-Qanuni melalui Huseyn Effendi. Maksud dari permohonan dari Sultan Kerajaan Aceh karena Bangsa Portugis sering mengganggu dan merompak kapal pedagang muslim yang berlayar dari aceh ke turki dan sebaliknya. Portugis juga sering menghadang jamaah haji dari aceh ke mekkah.

     Oleh karena itu, Kerajaan Aceh meminta armada perang dari Turki untuk mengamankan jalur pelayaran aceh ke timur tengah. Setelah meninggalnya Sultan Suleyman sekitar tahun 1566 M diganti Sultan Selim II lalu segera memerintahkan armadanya untuk melakukan ekspedisi militer ke Aceh. Laksamana Kurtoglu Hizir Reis diperintahkan untuk berlayar ke aceh dengan membawa artileri, ahli senapan, tentara, dan menghadiahkan meriam (lada sicupak). Pasukan ini diperintahkan berada di aceh selama masih dibutuhkan oleh sultan Aceh. Namun dalam perjalanannya armada turki di alihkan ke yaman untuk meredakan pemberontakan.


acehfokussab.blogspot.com
      Tibanya armada turki di aceh, Sultan Aceh menyambut meriah kedatangan armada turki lalu menganugerahkan jabatan gubernur Nanggroe Aceh Darussalam kepada laksamana Kortoglu Hizir Reis. Pasukan Turki tiba di aceh berjumlah kurang lebih 500 orang. Dengan bantuan armada turki aceh menyerang Portugis di pusat Malaka (1568 M).



Meriam Lada Sicupak
www.republika.co.id


        Setelah kemenangan perang atas Portugis, Turki Utsmani mengizinkan kapal-kapal aceh untuk mengibarkan bendera Turki Utsmani di kapal mereka. Selman Reis laksamana di wilayah laut merah terus memantau pergerakan armada Portugis di samudera Hindia, Laporannya lalu dikirim ke pemerintah pusat Turki (Istanbul).
        
       Bunyi salah satu laporan Selman antara lain :
Portugis juga mengusai pelabuhan (pasai) di pulau besar yang disebut syamatirah (sumatera). Dikatakan, mereka mempunyai 200 orang kafir disana (pasai). Dengan 200 orang kafir, mereka juga mengusai pelabuhan malaka yang berhadapan dengan sumatera. karena itu, ketika kapal-kapal kita sudah siap dan Insya Allah bergerak melawan mereka, maka kehancuran total mereka tidak akan terelakkan lagi, karena satu benteng tidak bisa menyokong yang lain, dan mereka tidak dapat membentuk perlawanan yang bersatu.
         Namun Raja Portugis Emanuel I bertujuan untuk menyebarkan agama kristen dan merampas kekayaan orang-orang timur dan itu semua terkait dengan Perang Salib. Dalam peperangan di laut, Armada Aceh sangat apik dalam berperang dengan kekuatan maritim sangat besar dan ditakuti oleh Portugis di Nusantara, karena mendapat bantuan penuh dari armada perang Turki Utsmani dengan berbagai peralatan perangnya. Pada masa kejayaan Kesultanan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa ini Aceh juga mengirimkan armada kecil yang terdiri dari 3 kapal menuju Istanbul. Rombangan ini tiba sekitar 12 tahun setelah perjalanan melalui Tanjung Harapan. Ketika kembali ke Aceh mereka diberikan sejumlah senjata, 12 penasehat militer Turki dan sepucuk surat yang menyatakan antara dua negara islam tersebut merupakan satu keluarga dalam islam. Dua belas penasehat militer itu pun diberi penghormatan sebagai Pahlawan Kerajaan Aceh dan mereka tidak ahli dalam militer saja, mereka juga ahli dalam bidang arsitektur yang dapat membantu Sultan Iskandar Muda untuk membangun benteng yang kokoh di Koetaradja dan Istana Sultan.






Sumber Referensi :

          
      
       
Share:

Thursday, August 11, 2016

Koca Mimar Sinan Agha Arsitek Muslim Ternama

Salam Sejahtera Rakan..

       Gudang Isi akan menyajikan sedikit info tentang arsitek muslim terkenal pada era Turky Ustmani yang bernama Mimar Sinan.
   

Koca Mimar Sinan Agha : Arsitek Muslim

osolihin.wordpress.com
       Lahir di Kaysariya, Anatolia pada tahun 1489 M, Meninggal tahun 1588 M. Terlahir dengan nama Joseph, data menyebutkan beliau anak dari Abdulmenan (ayah nasrani tak dikenal yang anaknya menjadi Muslim). Beliau berasal dari agama kristen yunani atau armenia, namun ia mendapat hidayah kemudian masuk islam.
   
        Mengikuti jejak ayahnya, beliau direkrut menjadi anggota khusus Ustmaniyyah yaitu Korps Janissari (Yenicheri). Namun siapa sangka, di dunia militer jiwa dan bakat arsiteknya muncul dan beriring berjalannya waktu pangkat militernya pun naik. Beliau pernah di tolak oleh sekolah tinggi Kesultanan di Istana Topkapi dikarenakan umur beliau sudah 23 tahun. Lalu beliau dikirim ke sebuah tempat kursus keterampilan, pertama ia belajar menukang kayu dan matematika. Namun berkat kecerdasannya ia diangkat menjadi asisten arsitek dan dilatih untuk menjadi arsitek.
      
      Tiga tahun setelah belajar arsitek beliau mendapat gelar arsitek ahli dan insinyur, disela-sela kesibukannya beliau juga mengikuti jihad sebagai anggota janissari. Pada tahun 1521-1522 (Turki perang dengan Beograd dan Rhodes) Mimar menjadi kepala operator kembang api,

      Karier militernya melesat  di berulang-ulang kali dipromosikan hingga menjadi hakim polisi, Dua kegiatan yang beliau jalani beliau mempelajari kelemahan suatu bangunan jika ditembak, Dia pun mendapat kewenangan untuk merobohkan bangunan yang tidak sesuai dengan perencanaan kota.

        Mimar Sinan juga membantu membangun benteng dan jembatan, antara lain jembatan diatas Sungai Donau, sementara di kota eropa Mimar banyak mengubah gereja menjadi masjid,

        Pada tahun 1543 anak Sultan Sulaiman meninggal dunia yaitu Sultan Muhammad, kejadian ini membuat Sultan Sulaiman berniat untuk membangun masjid megah yang sultan gunakan untuk melayani umat islam di Istanbul sekaligus pahala jariyah buat anaknya.

        Momen ini kesempatan pertama dari Sultan untuk Mimar Sinan atas proyek besar yakni masjid megah dan tempat tersendiri di hati sultan Sulaiman.

kisahmuslim.com

      Setelah 4 tahun Mimar mengerjakan proyek sehzade jami' (Masjid Pangeran) di pusat kota istanbul, Di komplek kulliye masjid terdapat dapur untuk kaum miskin, penginapan wisatawan dan makam sultan Muhammad.

upload.wikimedia.org
      Dan masih banyak karya-karya beliau dalam bidang arsitektur yang terkenal seperti Masjid Sulemaniye, Mehmed sedefkar Agha, Masjid Sultan Ahmed.
   
      Sekian sedikit pembahasan sejarah dan perjalanan singkat tentang Koca Mimar Sinan Agha.


Terima kasih rakan...



Referensi :

id.wikipedia.org
kisahmuslim.com
osolihin.wordpress.com
www.satujam.com




       
Share:

Friday, May 20, 2016

Paper Tarekat Syattariyah


TAREKAT SYATTARIYAH


            Tarekat Syattariyah adalah aliran tarekat yang pertama kali muncul di India pada abad ke-15. Tarekat ini dinisbahkan kepada tokoh yang mempopulerkan dan berjasa mengembangkannya, Abdullah asy-Syattar.
            Awalnya tarekat ini lebih dikenal di Iran dan Transoksania (Asia Tengah) dengan nama Isyqiyah. Sedangkan di wilayah Turki Usmani, tarekat ini disebut Bistamiyah.
            Kedua nama ini diturunkan dari nama Abu Yazid al-Isyqi, yang dianggap sebagai tokoh utamanya. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya Tarekat Syattariyah tidak menganggap dirinya sebagai cabang dari persatuan sufi mana pun. Tarekat ini dianggap sebagai suatu tarekat tersendiri yang memiliki karakteristik-karakteristik tersendiri dalam keyakinan dan praktik.
            Sedikit yang dapat diketahui mengenai Abdullah asy-Syattar. Ia adalah keturunan Syihabuddin Suhrawardi. Kemungkinan besar ia dilahirkan di salah satu tempat di sekitar Bukhara. Di sini pula ia ditasbihkan secara resmi menjadi anggota Tarekat Isyqiyah oleh gurunya, Muhammad Arif.

            Nisbah asy-Syattar yang berasal dari kata syatara, artinya membelah dua, dan nampaknya yang dibelah dalam hal ini adalah kalimah tauhid yang dihayati di dalam dzikir nafi itsbat, la ilaha (nafi) dan illallah (itsbah), juga nampaknya merupakan pengukuhan dari gurunya atas derajat spiritual yang dicapainya yang kemudian membuatnya berhak mendapat pelimpahan hak dan wewenang sebagai Washitah (Mursyid). Istilah Syattar sendiri, menurut Najmuddin Kubra, adalah tingkat pencapaian spiritual tertinggi setelah Akhyar dan Abrar. Ketiga istilah ini, dalam hierarki yang sama, kemudian juga dipakai di dalam Tarekat Syattariyah ini. Syattar dalam tarekat ini adalah para sufi yang telah mampu meniadakan zat, sifat, dan af'al diri (wujud jiwa raga).

            Namun karena popularitas Tarekat Isyqiyah ini tidak berkembang di tanah kelahirannya, dan bahkan malah semakin memudar akibat perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah, Abdullah asy-Syattar dikirim ke India oleh gurunya tersebut. Semula ia tinggal di Jawnpur, kemudian pindah ke Mondu, sebuah kota muslim di daerah Malwa (Multan). Di India inilah, ia memperoleh popularitas dan berhasil mengembangkan tarekatnya tersebut.

            Tidak diketahui apakah perubahan nama dari Tarekat Isyqiyah yang dianutnya semula ke Tarekat Syattariyah atas inisiatifnya sendiri yang ingin mendirikan tarekat baru sejak awal kedatangannya di India ataukah atas inisiatif murid-muridnya. Ia tinggal di India sampai akhir hayatnya (1428).

            Sepeninggal Abdullah asy-Syattar, Tarekat Syattariyah disebarluaskan oleh murid-muridnya, terutama Muhammad A'la, sang Bengali, yang dikenal sebagai Qazan Syattari. Dan muridnya yang paling berperan dalam mengembangkan dan menjadikan Tarekat Syattariyah sebagai tarekat yang berdiri sendiri adalah Muhammad Ghaus dari Gwalior (w.1562), keturunan keempat dari sang pendiri. Muhammad Ghaus mendirikan Ghaustiyyah, cabang Syattariyah, yang mempergunakan praktik-praktik yoga. Salah seorang penerusnya Syah Wajihuddin (w.1609), wali besar yang sangat dihormati di Gujarat, adalah seorang penulis buku yang produktif dan pendiri madrasah yang berusia lama. Sampai akhir abad ke-16, tarekat ini telah memiliki pengaruh yang luas di India. Dari wilayah ini Tarekat Syatttariyah terus menyebar ke Mekkah, Madinah, dan bahkan sampai ke Indonesia.

            Tradisi tarekat yang bernafas India ini dibawa ke Tanah Suci oleh seorang tokoh sufi terkemuka, Sibghatullah bin Ruhullah (1606), salah seorang murid Wajihuddin, dan mendirikan zawiyah di Madinah. Syekh ini tidak saja mengajarkan Tarekat Syattariah, tetapi juga sejumlah tarekat lainnya, sebutlah misalnya Tarekat Naqsyabandiyah. Kemudian Tarekat ini disebarluaskan dan dipopulerkan ke dunia berbahasa Arab lainnya oleh murid utamanya, Ahmad Syimnawi (w.1619). Begitu juga oleh salah seorang khalifahnya, yang kemudian tampil memegang pucuk pimpinan tarekat tersebut, seorang guru asal Palestina, Ahmad al-Qusyasyi (w.1661).

            Setelah Ahmad al-Qusyasyi meninggal, Ibrahim al Kurani (w. 1689), asal Turki, tampil menggantikannya sebagai pimpinan tertinggi dan penganjur Tarekat Syattariyah yang cukup terkenal di wilayah Madinah.

            Dua orang yang disebut terakhir di atas, Ahmad al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani, adalah guru dari Abdul Rauf Singkel yang kemudian berhasil mengembangkan Tarekat Syattariyah di Indonesia. Namun sebelum Abdul Rauf. Telah ada seorang tokoh sufi yang dinyatakan bertanggung jawab terhadap ajaran Syattariyah yang berkembang di Nusantara lewat bukunya Tuhfat al-Mursalat ila ar Ruh an-Nabi, sebuah karya yang relatif pendek tentang wahdat al-wujud. Ia adalah Muhammad bin Fadlullah al-Bunhanpuri (w. 1620), juga salah seorang murid Wajihuddin. Bukunya, Tuhfat al-Mursalat, yang menguraikan metafisika martabat tujuh ini lebih populer di Nusantara ketimbang karya Ibnu Arabi sendiri. Martin van Bruinessen menduga bahwa kemungkinan karena berbagai gagasan menarik dari kitab ini yang menyatu dengan Tarekat Syattariyah, sehingga kemudian murid-murid asal Indonesia yang berguru kepada al-Qusyasyi dan Al-Kurani lebih menyukai tarekat ini ketimbang tarekat-tarekat lainnya yang diajarkan oleh kedua guru tersebut. Buku ini kemudian dikutip juga oleh Syamsuddin Sumatrani (w. 1630) dalam ulasannya tentang martabat tujuh, meskipun tidak ada petunjuk atau sumber yang menjelaskan mengenai apakah Syamsuddin menganut tarekat ini. Namun yang jelas, tidak lama setelah kematiannya, Tarekat Syattariyah sangat populer di kalangan orang-orang Indonesia yang kembali dari Tanah Arab.


            Abdul Rauf sendiri yang kemudian turut mewarnai sejarah mistik Islam di Indonesia pada abad ke-17 ini, menggunakan kesempatan untuk menuntut ilmu, terutama tasawuf ketika melaksanakan haji pada tahun 1643. Ia menetap di Arab Saudi selama 19 tahun dan berguru kepada berbagai tokoh agama dan ahli tarekat ternama. Sesudah Ahmad Qusyasyi meninggal, ia kembali ke Aceh dan mengembangkan tarekatnya. Kemasyhurannya dengan cepat merambah ke luar wilayah Aceh, melalui murid-muridnya yang menyebarkan tarekat yang dibawanya. Antara lain, misalnya, di Sumatera Barat dikembangkan oleh muridnya Syekh Burhanuddin dari Pesantren Ulakan; di Jawa Barat, daerah Kuningan sampai Tasikmalaya, oleh Abdul Muhyi. Dari Jawa Barat, tarekat ini kemudian menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sulewasi Selatan disebarkan oleh salah seorang tokoh Tarekat Syattariyah yang cukup terkenal dan juga murid langsung dari Ibrahim al-Kurani, Yusuf Tajul Khalwati (1629-1699).

            Martin menyebutkan bahwa sejumlah cabang tarekat ini kita temukan di Jawa dan Sumatera, yang satu dengan lainnya tidak saling berhubungan. Tarekat ini, lanjut Martin, relatif dapat dengan gampang berpadu dengan berbagai tradisi setempat; ia menjadi tarekat yang paling "mempribumi" di antara berbagai tarekat yang ada. Pada sisi lain, melalui Syattariyah-lah berbagai gagasan metafisis sufi dan berbagai klasifikasi simbolik yang didasarkan atas ajaran martabat tujuh menjadi bagian dari kepercayaan populer orang Jawa.

Ajaran dan Dzikir Tarekat Syattariyah
            Perkembangan mistik tarekat ini ditujukan untuk mengembangkan suatu pandangan yang membangkitkan kesadaran akan Allah SWT di dalam hati, tetapi tidak harus melalui tahap fana'. Penganut Tarekat Syattariyah percaya bahwa jalan menuju Allah itu sebanyak gerak napas makhluk. Akan tetapi, jalan yang paling utama menurut tarekat ini adalah jalan yang ditempuh oleh kaum Akhyar, Abrar, dan Syattar. Seorang salik sebelum sampai pada tingkatan Syattar, terlebih dahulu harus mencapai kesempurnaan pada tingkat Akhyar (orang-orang terpilih) dan Abrar (orang-orang terbaik) serta menguasai rahasia-rahasia dzikir. Untuk itu ada sepuluh aturan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tarekat ini, yaitu taubat, zuhud, tawakkal, qana'ah, uzlah, muraqabah, sabar, ridla, dzikir, dan musyahadah.

            Sebagaimana halnya tarekat-tarekat lain, Tarekat Syattariyah menonjolkan aspek dzikir di dalam ajarannya. Tiga kelompok yang disebut di atas, masing-masing memiliki metode berdzikir dan bermeditasi untuk mencapai intuisi ketuhanan, penghayatan, dan kedekatan kepada Allah SWT. Kaum Akhyar melakukannya dengan menjalani shalat dan puasa, membaca al-Qur'an, melaksanakan haji, dan berjihad. Kaum Abrar menyibukkan diri dengan latihan-latihan kehidupan asketisme atau zuhud yang keras, latihan ketahanan menderita, menghindari kejahatan, dan berusaha selalu mensucikan hati. Sedang kaum Syattar memperolehnya dengan bimbingan langsung dari arwah para wali. Menurut para tokohnya, dzikir kaum Syattar inilah jalan yang tercepat untuk sampai kepada Allah SWT.

           

            Di dalam tarekat ini, dikenal tujuh macam dzikir muqaddimah, sebagai pelataran atau tangga untuk masuk ke dalam Tarekat Syattariyah, yang disesuaikan dengan tujuh macam nafsu pada manusia. Ketujuh macam dzikir ini diajarkan agar cita-cita manusia untuk kembali dan sampai ke Allah dapat selamat dengan mengendarai tujuh nafsu itu. Ketujuh macam dzikir itu sebagai berikut:
            Dzikir thawaf, yaitu dzikir dengan memutar kepala, mulai dari bahu kiri menuju bahu kanan, dengan mengucapkan laa ilaha sambil menahan nafas. Setelah sampai di bahu kanan, nafas ditarik lalu mengucapkan illallah yang dipukulkan ke dalam hati sanubari yang letaknya kira-kira dua jari di bawah susu kiri, tempat bersarangnya nafsu lawwamah.
            Dzikir nafi itsbat, yaitu dzikir dengan laa ilaha illallah, dengan lebih mengeraskan suara nafi-nya, laa ilaha, ketimbang itsbat-nya, illallah, yang diucapkan seperti memasukkan suara ke dalam yang Empu-Nya Asma Allah.
1.      Dzikir itsbat faqat, yaitu berdzikir dengan Illallah, Illallah, Illallah, yang dihujamkan ke dalam hati sanubari.
2.      Dzikir Ismu Dzat, dzikir dengan Allah, Allah, Allah, yang dihujamkan ke tengah-tengah dada, tempat bersemayamnya ruh yang menandai adanya hidup dan kehidupan manusia.
3.      Dzikir Taraqqi, yaitu dzikir Allah-Hu, Allah-Hu. Dzikir Allah diambil dari dalam dada dan Hu dimasukkan ke dalam bait al-makmur (otak, markas pikiran). Dzikir ini dimaksudkan agar pikiran selalu tersinari oleh Cahaya Ilahi.
4.      Dzikir Tanazul, yaitu dzikir Hu-Allah, Hu-Allah. Dzikir Hu diambil dari bait al-makmur, dan Allah dimasukkan ke dalam dada. Dzikir ini dimaksudkan agar seorang salik senantiasa memiliki kesadaran yang tinggi sebagai insan Cahaya Ilahi.
5.      Dzikir Isim Ghaib, yaitu dzikir Hu, Hu, Hu dengan mata dipejamkan dan mulut dikatupkan kemudian diarahkan tepat ke tengah-tengah dada menuju ke arah kedalaman rasa.

            Ketujuh macam dzikir di atas didasarkan kepada firman Allah SWT di dalam Surat al-Mukminun ayat 17: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu semua tujuh buah jalan, dan Kami sama sekali tidak akan lengah terhadap ciptaan Kami (terhadap adanya tujuh buah jalan tersebut)". Adapun ketujuh macam nafsu yang harus ditunggangi tersebut, sebagai berikut:
·         Nafsu Ammarah, letaknya di dada sebelah kiri. Nafsu ini memiliki sifat-sifat berikut:
Senang berlebihan, hura-hura, serakah, dengki, dendam, bodoh, sombong, pemarah, dan gelap, tidak mengetahui Tuhannya.
·         Nafsu Lawwamah, letaknya dua jari di bawah susu kiri. Sifat-sifat nafsu ini: enggan, acuh, pamer, 'ujub, ghibah, dusta, pura-pura tidak tahu kewajiban.
·         Nafsu Mulhimah, letaknya dua jari dari tengah dada ke arah susu kanan. Sifat-sifatnya: dermawan, sederhana, qana'ah, belas kasih, lemah lembut, tawadlu, tobat, sabar, dan tahan menghadapi segala kesulitan.
·         Nafsu Muthmainnah, letaknya dua jari dari tengah-tengah dada ke arah susu kiri. Sifat-sifatnya: senang bersedekah, tawakkal, senang ibadah, syukur, ridla, dan takut kepada Allah SWT.
·         Nafsu Radhiyah, letaknya di seluruh jasad. Sifat-sifatnya: zuhud, wara', riyadlah, dan menepati janji.
·         Nafsu Mardliyah, letaknya dua jari ke tengah dada. Sifat-sifatnya: berakhlak mulia, bersih dari segala dosa, rela menghilangkan kegelapan makhluk.
·         Nafsu Kamilah, letaknya di kedalaman dada yang paling dalam. Sifat-sifatnya: Ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin.

            Khusus dzikir dengan nama-nama Allah (asmaul husna), tarekat ini membagi dzikir jenis ini ke dalam tiga kelompok. Yakni: 

  • Menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya, seperti al-Qahhar, al-Jabbar, al-Mutakabbir, dan lain-lain 
  • Menyebut nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya seperti, al-Malik, al-Quddus, al-'Alim, dan lain-lain
  • Menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut, seperti al-Mu'min, al-Muhaimin, dan lain-lain. Ketiga jenis dzikir tersebut harus dilakukan secara berurutan, sesuai urutan yang disebutkan di atas. Dzikir ini dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang, sampai hati menjadi bersih dan semakin teguh dalam berdzikir. Jika hati telah mencapai tahap seperti itu, ia akan dapat merasakan realitas segala sesuatu, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani.


Share:

Paper Tarekat Syadziliyah

TAREKAT SYADZILIYAH


Dinisbatkan kepada Nur Ad-Din Ahmad Asy-Syadzili (593-656 H/ 1196-1258 M). Secara pribadi, Asy-Syadzili tidak meninggalkan karya tasawuf, begitu uga muridnya, abdul abbas al-mursi, kecuali hanta sebai ajaran lisan tasawuf, doa, hizib. Ibnu ath-thaillah as-sukandari adalah orang pertama yang menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa, dan biografi keduanya sehingga khazanah tarekat syadziliyah tetap terpelihara. Ibnu ath-thaillah juga orang tang pertama menyusun karya paripurna tentang aturan-aturan tarekat tersebut, pokok-pokoknya, prinsip-prinsipnya, bagi angkatan-angkatan setelahnya .
            Melalui sirkulasi karya-karya ibnu ath-athaillah, tarekat syadziliyah mulai tersebar sampai ke barat, sebuah negara yang pernah menolak sang guru.akan tetapi, ia tetap merupakan tradisi individualistik yang hampir mati, meskipun temaini tidak dipakai yang menitikberatkan pengembangan sisi dalam. Syadzili tidak mengenal atau menganjurkan murid-muridnya untuk melakukan aturan atau ritual yang khas dan tidak satupun yang berbentuk ke shalehan popoler yang digalakan. Akan tetapi, muri-muridnya tetap mempertahankan ajarannya. Para murid melaksanakan tarekat sadziliyah di zawiyah-zawiyah yang tersebar tanpa mempunyai hubungan satu dengan yang lain.
          
1) Sejarah singkat Tarekat Syadziliyah
            Secara lengkap nama pendiri tarekat ini adalah Ali bin Abdullah bin ‘Abd Al Jabbar Abu al-Hasan al-Syadzili. Dia di lahirksn di desa Ghumara, dekat Ceuta, di Utara Maroko pada tahun 573 H. Asy-Syadzili meninggal pada tahun 656 H/ 1258 M di humaithra, dekat pantai laut Merah. Tarekat ini berdiri pada abad ke-7 H/ 13 M.

2) Ciri Tarekat Syadziliyah
  • kalangan kelas menengah, pengusaha, pejabat dan pegawai negeri.
  • tidak begitu membebani pengikutnya dengan ritual-ritual yang memberatkan seperti yang terdapat dalam tarekat-tarekat yang lainnya.
  •  Setiap anggota tarekat ini wajib mewujudkan semangat tarekat di dalam kehidupan dan lingkungannya sendiri.
  • mereka tidak diperbolehkan mengemis atau mendukung kemiskinan.
  • kerapian mereka dalam berpakaian.


3) Ajaran

            Adapun ajaran-ajaran tarekat al-syadziliyah, yaitu :
  • Tidak menganjurkan murid-muridnya untuk meninggalkan profesi mereka.
  • Tidak mengabaikan dalam menjalankan syari’at islam.
  • Zuhud tidak berarti harus menjauhi dunia karena pada dasarnya zuhud adalah mengosongkan hati dari selain Tuhan.
  • Tidak ada larangan bagi kaum salik untuk menjadi miliuner.
  • Berusaha merespons apa yang sedang mengancam kehidupan umat
  • Tasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka ibadah dan menempatkan diri sesuai dengan ketentuan Allah.
  • Ma’rifat adalah salah satu tujuan ahli tarekat atau tasawuf yang dapat di peroleh dengan dua jalan.


4) Lima sendi yang ada pada tarekat syadziliyah
  1. Ketaqwaan terhadap Allah SWT lahir batin, yang diwujudkan dengan jalan bersikap wara’ dan Istiqamah dalam menjalankan perintah Allah subhanahu wata’ala.
  2. Konsisten mengikuti Sunnah Rasululkah SAW, baik dalam ucapan maupun perbuatan, yang direalisasikan dengan selalu bersikap waspada dan bertingkah laku yang luhur.
  3. Berpaling (hatinya) dari makhluk, baik dalam penerimaan maupun penolakan, dengan berlaku sadar dan berserah diri kepada Allah SWT {Tawakkal}.
  4. Ridha kepada Allah, baik dalam kecukupan maupun kekurangan, yang diwujudkan dengan apa adanya {qana’ah/tidak rakus} dan menyerah.
  5. Kembali kepada Allah, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah, yang diwujudkan dengan jalan bersykur dalam keadaan senang dan berlindung kepada-Nya dalam keadaan susah.


5) Pengaruh tarekat di dunia islam
            Tarekat memengaruhi dunia islam mulai dari abad ke-13. Kedudukan tarekat saat itu sama dengan partai politik. Bahkan tentara juga menjadi anggota tarekat.
            Tarekat keagamaan meluaskan pengaruh dan organisasinya ke seluruh pelosok negeri; menguasai masyarakat melalui suatu jenjang yang terancang dengan baik; dan memberikan otonomi kedaerahan seluas-luasnya. Setiap desa atau kelompok desa memiliki wali lokal yang di dukung dan dimuliakan sepanjang hidupnya, bahkan dipuja dan diagung-agungkan setelah kematiannya.   Akan tetapi pada saat-saat itu telah terjadi penyelewengan di dalam tarekat-tarekat. Penyelewengan ini, antara lain terjadi dalam paham wasilah, yaitu paham yang menjelaskan bahwa permohonan seseorang tidak bisa dialamatkan langsung kepada Allah SWT., tetapi harus melalui guru, guru ke gurunya, demikian seterusnya sampai kepada Syekh, baru bisa bertemu dengan Allah atau berhubungan dengan Allah SWT.
            Disamping itu, tarekat umumnya hanya berorientasi akhirat, tidak mementingkan dunia. Tarekat menganjurkan banyak beribadah dan jangan mengikuti dunia karena, “Dunia ini adalah bangkai, yang mengejar dunia adalah anjing.” Ajaran ini tampaknya menyelewengkan umat islam dari jalan yang ditempuhnya. Demikian juga, sifat tawakal, menunggu apa saja yang akan datang, qadha dan qadar yang sejalan dengan paham Asy-‘Ariyah. Para pembaharu dalam dunia islam melihat bahwa tarekat bukan hanya mencemarkan paham tauhid, melainkan membawa kemunduran bagi umat islam.
            Oleh karena itu pada abad ke-19, mulailah timbul pemikiran yang sinis kepada tarekat dan juga terhadap tasawuf. Banyak orang menentang dan meninggalkan tarekat atau tasawuf. Pada mulanya, Muhammad abduh sebenarnya adalah pengikut tarekat yang patuh, tetapi setelah bertemu Jamaluddin Al-afghani, ia berubah pendirian dengan meninggalkan tarekatnya dan mementingkan dunia, disamping akhirat. Begitu juga Rasyid Ridha, setelah melihat bahwa tarekat membawa kemunduran pada uamt islam, ia meninggalkan tarekat dan memusatkan perhatiannya pada upaya memajukan umat islam.
            Akan tetapi, akhir-akhir ini perhatian pada tasawuf timbul kembali karena dipengaruhi oleh paham materalisme. Orang-orang Barat melihat bahwa materalisme memerlukan sesuatu yang bersifat rohani, yang bersifat immateri sehingga banyak orang yang kembali memerhatikan tasawuf.
            Pengaruh khusus pada tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyah, dan Syadziliyah
Sejak Tarekat Qadiriyah berada di Indonesia dan di tempat-tempat lain, orang masih menyelenggarakan Manakib Syekh ‘Abd al-Qadir al-Jailani. Riwayat hidup dan karamahnya masih dibaca orang untuk mendapatkan barakahnya. Kekhasan tarekat ini masih survive sebagai tarekat pelopor yaitu pengucapan dzikir Jahar bahkan menjadi bagian/dasar dari sebagian tarekat yang lahir kemudian.

       Tanda utama Tarekat Syadziliyah masih dapat dirasakan hingga saat ini yaitu dengan variasi Hizb-nya. Dan terutama Hizb Al-Bahr yang dikenal sangat memberi pengaruh yang kuat bagi pengamalnya. Hizb-hizb tersebut tidak boleh diamalkan oleh semua orang, kecuali telah mendapatkan izin atau ijazah dari Mursyid atau seorang wakil yang ditunjuk oleh Mursyid untuk mengijazahkannya.
            Pengaruh Tarekat Naqsyabandiyah ini masih dapat ditemui dengan adanya orang yang melakukan dzikir dalam hati bahkan hingga menolak adanya seni musik dan tari dikarenakan seni musik dan tari dapat mengakibatkan adanya ketidakkhusyuan dalam melakukan dzikir.
Share:

Translate

Muhammad Maulana & Rifqi Fuadi. Powered by Blogger.